Blogroll

Minggu, 15 Oktober 2017

CARA ILMUAN



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “CARA KERJA ILMUAN II (kebenaran ilmiah dan sikap ilmuan)”, yang mana makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah FISAFAT.Adapun yang kami bahas dalam makalah ini yaitu kebenaran ilmiah dan sikap ilmuan.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta sumber yang kami miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Mataram, 21 September 2016











A.     KEBENARAN ILMIAH
1.      Pengertian kebenaran
Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dengan obyek.
Aristoteles mendefinisikan kebenaran adalah soal  kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai sesuatu yang diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia (oleh purwadarmita) ditemukan arti kebenaran yaitu:
·         Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya).
·         Sesuatu yang benar (sunggu sungguh ada).
·         Kejujuran (ketulusan hati).
Kebenaran dapat dibagi dalam tiga jenis menurut telaah dalam filsafat ilmu yaitu:
·         Kebenaran epistemological, adalah  kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia.
·         Pengetahuan ontologikal, adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada maupun diadakan.
·         Kebenaran semantikal, adalah kebenaran yang terdapat serta melekat  di dalam tutur kata dan bahasa.
2.      Pengertian ilmiah
Dalam kamus Imiah berasal dari kata ilmu artinya pengetahuan. Namun, dalam kajian filsafat  ilmu dan pengetahuan dibedakan. Pengetahuan bukan ilmu, tetapi ilmu merupakan akumulasi pengetahuan. Sedangkann yang dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didasarkan atas terpenuhinya syarat syarat ilmiah, terutama menyangkut teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.
Dari pengertian  tersebut dapat diartikan bahwa ilmu atau ilmiah merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui syarat syarat tertentu. Syarat syarat ini kemudian disebut dengan metode ilmiah. Metode merupakan prosedur atau cara  mengetahui sesuatu dan mempunyai langkah langkah yang sistematis.
3.      Pengertian kebenaran ilmiah
Kebenaran ilmiah adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan obyek, kesesuaian ini didukung dengan syarat syarat tertentu juga didukung dengan teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang ditemukan melalui budi daya manusia. Melalui berbagai uji coba dan penelitian sehingga akhirnya membentuk satu sikap bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran sesungguhnya. kebenaran ilmiahn adalah kebenaran yang  hakiki sedangkan kebenaran hakiki adalah kebenaran yang diakui oleh siapapun, inilah kebenaran yang sebenarnya.



B.     SIKAP ILMUAN
Ilmuan adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu.
Dalam melakukan kegiatannya, baik dalam penelitian maupun dalam pengembangan konsep, seorang ilmuan dituntut untuk memiliki sikap sikap tertentu. Ia harus memiliki sikap sikap positif sbagai pencerminan dari kepastiannya sebagai manusia terpelajar yang selalu mencari kebenaran dari sumber  sumber asalnya.
1)      Berpikir kritis
Berpikir kritis erat kaitannya dengan logika dan keterampilan menyelesaikan masalah. Logika telah menjadi bagian terpenting dari berpikir kritis. Dengan disiplin logika, seorang ilmuan akan bekerja menyelesaikan masalah dan mengungkap kebenaran dengan logis dan sistematis mengikuti alur pemikiran yang teratur.
2)      Inkuairi
Seorang ilmuan senantiasa mempertanyakn apa, mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, atu apa, mengapa dan bagaimana suatu masalah itu muncul. Dengan pertanyaan pertanyaa itu dia tak hanya diam dan merenung, namun juga mencari iformasi melalui berbagai sumbe, dan berusaha memecahkan masalah yang ia temukan. Sikap ini dinamakan inkuari yang merupakan sikap naluriah yang dibawa anak sejak lahir.
1.      Tekun dan teliti
Ketekunan dan ketelitian merupakan senjata ampuh bagi ilmuan karena tanpa ketekunan dan ketelitian, experiment yang membosankan ditinjau dari segi waktu tidak akan memeberikan hasil yang tidak diinginkan. Sikap tekun dan teliti menuntut imuan agar tidak tergesa gesa dalam mengambil kesimpulan, dapat berfikir secara sistimematik, sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang kontoversial.
2.      Skeptik
Istilah skeptik ini berarti tidak mudah percaya, selalu meragukan sebelum sesuatu dapat dibuktikan. Atas dasar inilah, sikap skeptik  akan mendorong seorang ilmuan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuan sebelumnya, misalnya dengan memperbanyak variabel atau menelusuri prosedur penelitian yang telah dilakukan orang lain.
Sikap skeptik juga menunjukkan keluasan wawasan yang dimiliki seorang ilmuan. Dengan wawasan lebih yang dimilikinya, seorang ilmuan dapat melihat sesuatu dari berbagai perspektif, sehigga dapat lebih jeli melihat kekurangan atau keelemahan sebuah obyek (ilmu) untuk kemudian diperbaiki dan disempurnakan.
3.      Jujur dan bertanggung jawab terhadap masyarakat
Dalam melakukan penelitian, seorang ilmuan tidak boleh memanipulasi data. Artinya apapun hasil yang diperoleh harus dikomunikasikan di depan sesamma ilmuan dengan penuh kejujuran. Seorang ilmuan akan sangat tercela jika penelitian yang dilakukannya hanyalah sebuah jiplakan orang lain yang dikemas dengan penampilan lain. Publikasi yang dilakukannya, pada akhirnya akan diketahui khalayak sebagai suatu kebohongan besar.
4.      Terbuka
Seorang ilmuan harus dapat menerima saran dan kritik dari orang lain. Informasi tentang hasil penelitian biasanya memperoleh tanggapan dan saran atau kritik dari sesama ilmuan.  Kritik, khususnya yang membangun harus dapat diterima dengan lapang dada. Karena dengan demikian seorang peneliti dapat mengintroeksi dan memperbaiki kesalahan atau kekurang telitian yang telah diperbuat. Disamping menyadari kekurangannya itu, ia juga menghargai pendapat orang lain.
5.      Toleran
Seorang ilmuan tidak merasa bahwa ia paling hebat.  Ia bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih uas, atau mungkin saja pendapatnya bisa salah.  Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, serta tidak meaksakan suatu pendapat kepada orang lain.  Dalam pikiran seorang ilmuan terdapat ruang “toleran”, sebuah ruang untuk menempatkan kebenaran ilmiah sebagai sesuatu yang lebih bebas untuk diinterprestasikan dalam batas batas tertentu. Batas tegas dalam jiwa seorang  ilmuan hanya ada antara kebenaran dengan ketidakbenaran. Seorang ilmuan akan menyatakan dengan mantap “pendapatku memang benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain memang salah (kurang tepat), tapi mungkin mengandung kebenaran”.




















A.    Kesimpulan
Kebenaran adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan objek. Pengetahuan yang tidak sesuai dengan objek dipandang sebagai kekeliruan.
ilmu atau ilmiah merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui syarat syarat tertentu. Syarat syarat ini kemudian disebut dengan metode ilmiah.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang bersifat mutlak dengan pembuktian melalui beberapa tahapan atau proses menuju pencapaian kebenaran tersebut.
seorang ilmuan dituntut untuk memiliki sikap
B.     Saran
Menyadari bahwa penulis adalah manusia biasa, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.

0 komentar:

Posting Komentar