KATA PENGANTAR
Puji syukur kamipanjatkan kehadirat Allah swt, karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “ Dimensi
Kajian Ilmu Filsafat ” degan baik meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya.
Dan juga kami berterima kasih kepada bapak Dr. Syamsul Arifin, M.A selaku Dosen
mata kuliah Filsafat Ilmu di Institut Agama Islam Negeri Mataram yang telah
memberi tugas kepada kami.
Kami berharap makalah yang kami buat ini
dapat berguna dan memberikan wawasan tabahan dan pengentahuan mengenai Dimensi
Kajian Ilmu Filsafat. Kami juga menyadari bahwa makalah yang kami buat ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu kami selaku pembuat makalah ingin
meminta maaf dan juga kami berharap adanya saran dan masukan dari pembaca
sekalian demi memperbaiki makalah yang akan kami buat di masa yang akan datang.
Mataram, 19
September 2016
………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Filsafat Ilmu merupakan ilmu yang sangat
penting karena merupakan induk ilmu pengetahuan. Disamping itu ia juga menjadi
mata kuliah dasar yang sangat penting untuk di pelajari. Filsafat ilmu memiliki
beberapa pokok bahasan salah satunya ialah dimensi kajian filsafat ilmu yang
mana memiliki kajian secara umum yaitu meliputi tigadimensi yaitu dimensi
ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Ketiganya merupakan
cakupan yang meliputi dari keseluruhan–keseluruhan pemikiran kefilsafatan.
Dan juga untuk memenuhi tugas yaitu penunjang nilai pada mata kuliah
filsafat ilmu serta menggali lebih dalam lagi mengetahui dimensi kajian
filsafat ilmu.
B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui apa saja yang menjadi pembahasan dalam dimensi kajian
filsafat ilmu
2.
Mengetahui pengertian dari dimensi ontology
3.
Mengetahui apa yang dimaksud dimensi epistemology dan
4.
Mengetahui pendekatan dimensi aksiologi
C. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan
masalah yang akan dibahas yaitu :
1. Apa sajakah yang menjadi pembahasan dalam
dimensi kajian filsafat ilmu ?
2. Apa yang dimaksud dengan dimensi ontology ?
3. Apa yang di maksud dengan dimensi
epistemology ?
4. Apa saja pendekatan dimensi aksiologi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pokok pembahasan dimensi kajian ilmu filsafat
Sedangkan
dimensi filsafat ilmu yang sering menjadi kajian secara umum yaitu meliputi
tiga hal: dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi.
Ketiganya merupakan cakupan yang meliputi dari keseluruhan–keseluruhan
pemikiran kefilsafatan. Dimensi yang pertama, membahas dan mengetahui tentang
asas-asas rasional dari yang – ada, mengetahui esensi dari yang ada.
Dimensi
epistemologi menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya
pengetahuan. Sedangkan dimensi aksiologi berusaha mengetahui hubungan antara
ilmu dan etika yang mempertanyakan mengenai nilai-nilai yang dijadikan sebagai
kunci keputusan dan tindakan manusia. Pemahaman terhadap ketiga dimensi di atas
sangat penting, karena merupakan pokok pemahaman dari kerangka pemikiran
filsafati
B. Pembagian dimensi kajian filsafat ilmu
1. Dimensi ontology
Merupakan
cabang metafisika yang membicarakan eksistensi dan ragam dari suatu kenyataa.
Ada beberapa tafsiran tentang kenyataan, diantaranya menurut supernaturalisme
dan naturalism
.
1. Supernaturalisme.
Terdapat
wujud-wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud ini bersifat lebih
tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan wujud alam yang nyata. Kepercayaan
yang didasarkan pada supernaturalisme adalah animisme, yang berpandangan bahwa
terdapat roh-roh yang bersifat gaib, yang terdapat dalam benda-benda tertentu,
misalnya: batu, gua, keris, dan sebagainya.
2. Naturalisme.
Paham yang
berdasarkan naturalisme, yaitu materialisme, menganggap bahwa gejala-gejala
alam diketahui. Tokoh pioner materialisme adalah (Democritos (460-370 SM).
Perkataan
“ontology” berasal dari perkataan dari Yunani “ yang ada” juga berarti logos.
Merupakan abang filsafat yang menggeluti tata dan struktur reslitas dalam arti
seluas mungkin. da Ontology menggunakan kategori-kategori ada-menjadi ,
aktualitas- potensialitas, nyata-tampak, perubahan, eksistensi-non eksistensi,
esensi, keniscayaan yang ada sebagai yang ada. Pertanyaan mendasar yang
digumuli di dalam ontology adalah “Apa itu ada – dalam – dirinya - sendiri? Apa
hakikat ada sebagai Ada? Istilah ontologi muncul sekitar abad ke-17 yang
dikenal dengan ungkapan mengenai “filsafat mengenai yang – ada” (philosophia
entis).
Martin
Heidegger (1889-1976) memeahamiontologi sebagai analisis eksistensi dan yang
memungkinkan adanya eksistensi. Para eksistensialis menunjukkan bahwa
pengetahuan apa pun yang dikembangkan haruslah dikembalikan pada eksistensi dan
keeksistansi manusia sebagai “ Ada” yang mengadakan atau “pengada actual”
(causa efficiens). Pemikiran diatas menunjukkanbahwa pengembanan epistemiligi
merupakan suatu tugas cultural yang dilandaskan pada ada atau keberadaan
jatidiri manusia.
Contoh dari
paradigama ontologi filsafati adalah ontologi sain, menghendaki sesuatu yang
bersifat rasional sehingga menghasilkan hipotesis yang raisonal pula. Setelah
menemukan hipotesis yang rasional maka dibuktikan secara empiris, sebagaimana
mengikuti metode ilmiah.
Metode
Ilmiah merupakan metode yang membuktikan bahwa suatu hal tersebut bersifat
logis, kemudian menarik sebuh hipotesis yang disertai dengan bukti empiris.
Sedangakan
perbedaan antara ontologi dan kosmologi adalah bahwa, ontologi berusaha untuk
mengetahui esensi terdalam dari yang – ada, sedangakan kosmologi berusaha untuk
mengetahui ketertibannya serta susunannya. Materialisme misalnya adalah ajaran
ontologi yang mengatakan bahwa yang ada yang terdalam bersifat material.
Apakah kenyataan itu mengandung tujuan atau
bersifat mekanis (artinya, bersifat teleogis atau tidak) merupakan suatu
pertanyaan ontologis.
Ontologi
dapat mendekati masalah hakikat kenyataan dari dua macam sudut pandang.
Pertama, dari sudut pandang kuantitatif, hal ini bisa dicintohkan “Kenyataan
itu tunggal atau jamak?” atau dapat juga mengajukan pertanyaan, “Dalam babak
terakhir apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?” Yang demikian ini
merupakan pendekatan secara kualitatif. Dalam hubungan tertentu segenap masalah
dibidang oontologi dapat dikembalikan kepada sejumlah pertanyaan yang bersifat
umum seperti, “Bagaimanakah cara kita hendak membicarakan kenyataan?”
Dalam
prakteknya, penyelesaian masalah ontologis mempunyai berbagai macam jawaban
filsafati yang berbeda-beda, sesuai dengan titik tolak pemikiran yang
digunakan. Kita dapat memberi comtoh hal tersebut misalnya dengan berbagai
pandangan atau aliran filsafat seperti jawaban natiralisme, materialisme,
idealisme dan pisitivme logis. Salah satu tokoh aliran filsafat idealisme yang
paling terkenal adalah Hegel. Menirut Hegel akal adalah kepastian yang sadar
tentang semua realitas yang ada, ia menegaskan bahwa yang nyata adalah
rasional, dan yang rasional adalah nyata. Idealisme absolut merupakan landasan
filsafat Hegel yang menempatkan ide absolut sebgai hakikat ontologis.
Contoh lain
dari jawaban ontologis adalah aliran materialisme. Apabila naturalisme
mendasarkan ajarannya pada penelitian “alam”, maka aliran materialisme berusaha
melampaui pengertian “alam” dan mendasarkan diri pada macam substansi atau
kenyataan terdalam yang dinamakan materi. Kaum meterialis pada masa lampau
memandang alam semesta tersusun dari zat-zat renik yang terdalam tersebut dan
memandang alam semesta dapat diterangakam berdasarkan hukum-hukum dinamika,
contohnya hal ini dikenal dengan rumus fisika dewasa ini dengan E = MC2, yang
menggambarakan bahwa tenaga E kedudukannya dapat saling dipertukarkan dengan
massa m. jadi istilah pokok yang melandasi ajaran materialisme adalah “materi”.
Contoh dari artikulasi ontologi materi adalah teori evolusi Charles Darwin.
2. Dimensi epistimology
Epistemologi
disebut juga the theory of knowledge atau teori pengetahuan. Epistemologi
berusaha mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan.
Pertanyaan khas dari epistemologi adalah bagaimana mengetahui (how to know?),
pertanyaan tersebut tidak hanya menanyakan apa (what) dari apa yang kita tahu
(the products), tetapi juga tentang bagaimana (how) kita sampai mengetahuinya
(the process). Para epistemolog adalah pencari pengetahuan yang sangat ulet.
Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui (what is known), siapa yang tahu
atau dapat mengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting,
bagaimana kita tahu (how we know). Mereka adalah para pengawas dari keluasan
ranah kognitif manusia.
Pertanyaan-pertnyaan tersebut didahului
dengan pertnayaan, “dapatkah kita mengetahui (can we know)
Cabang
ilmu filsafat yang secara khusus mengeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan disebut epistemologi. Istilah
“epistemologi” berasal dari kata Yunani episteme = pengetahuan dan logos =
perkataan, pikiran, ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata
kerja “epistemai”, artinya menunjukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka,
harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk
menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Selain kata “episteme”, unutk
kata “pengetahuan” dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis” maka istilah
kata epistemologi dalam sejarah pernah disebut juga gneseologi. Sebagai kajian
filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis
pengetahuan, epistemologi kadang juga disebut teori pengetahuan (theory fo
knowledge; Erkentnistheorie).
Sebagai
cabang ilmu filsafat, epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan
ciri-ciri umum dan hakiki dari pengtahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu
oada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya? Manakah ruang lingkup atau
batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui? Epistemologi juga bermaksud
secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang
mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban
rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitas.
Pertanyaan
pokok “bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu?” mau dijawab secara seksama.
Epistemologi atau filsafat pengetahuan pada dasarnya juga merupakan suatu upaya
rasional untuk meninbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam
interaksinya dengan diri, lingkungan, sosial, dan alam sekitarnya. Maka,
epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif dna
kritis.
Evaluatif
berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan
pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenarannya, atau
memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar.
Normatif
berarti menentukan norma atau tolok ukur, dan dalam hal ini tolok ukur dalam
kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Epistemologi sebagai cabang ilmu filsafat
tidak cukup hanya memberi deskripsi atau paparan bagaimana proses manusia
mengetahui itu terjadi (seperti dibuat oleh psikologi kognitif),
tetapiperlumembuat penentuan man ayng betul dan mana yang keliru berdasarkan
norma epestemik. Sedangkan kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji
kenalaran cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui. Yang dipertanyakan
adalah baik asumsi, cara kerja atau pendekatannyang diambil, maupun kesimpulan ang
ditarik dalam pelbagai kegiatan kognitif manusia.
Cara kerja
atau metode pendekatan epistemologi sama dengan ciri khas pendekatan filosofis
terhadap gejala pengetahuan. Pengetahuan bukan hanya menjadi objek ilmu
filsafat tetapi juga ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosiologi kognitif dan
sosiologi pengetahuan.
Yang
membedakan ilmu filsafat secara umum dari ilmu-ilmu lain bukannlah objek
materialnya atau apa yang menjadi kajian, tetapi objeke formal atau cara
pendekatannya: bagaimana objek yang dijadikan bahan kajian itu didekati. Ciri
khas cara pendekatan filasfat terhadap objek kejiannya tampak dari enis
pertanyaan yang diajukan dan upaya jawaban yang diberikan. Filsafat berusaha
secara kritis mengajukan dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyan yang
bersifat umum, menyeluruh, dan mendasar.
Berdasarkan
cara kerja atau metode pendekatan yang diambil terhadap gekala pengetahuan bisa
dibedakan beberapa macam epistemology yaitu :
Pertama,
epistemologi metafisis, yaitu epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan
dengan bertitik tolak dari pengandaian metafisika tertentu. Epistemologi ini
berangkat dari suatu paham tertentu tentang kenyataan, lalu membahas tentang
bagaimana manusia mengetahui kenyataan tersebut. Plato misalnya meyakini bahwa
kenyataan yang sejati adalah kenyataan dalam dunis ide-ide, plato dalam epistemologinya
memehami kegiatan mengetahui sebagai kekuatan jiwa mengingat (anamnesis)
kenyataan saja yang pernah dilihatnya dalam dunia ide-ide. Ia juga secara tegas
membedakan antara pengetahuan (episteme), sebagai sesuatu yang bersifat
objektif, universal dan tetap tak berubah, serata pendapat (doxa), sebagai
suatu yang bersifat subjektif, partikular dan berubah-ubah.
Kedua,
epistemologi skeptis sebagaimana pandangan Rene Descartes yang bermaksud
membultikn dahulu apayang dapat diketahui sebagai sungguh nyata atau benar
benar tak dapat diragukan lagi dengan menganggap sebagai tidak nyata atau
keliru segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Kesulitan dengan
metode pandekatan ini adalah apabila orang sedah masuk skeptisisme dan onsistendengan
sikapnya, maka tak mudah menemukan jalan keluar .skeptisime Des Cartes adalah
sketisisme metodis yaitu: suatu strategi awal untuk meregukan segala sesuatu
degnan maksud agar dapat sampai ke kebanaran yang tidak dapat diragukan lagi.
Ia menolak argumen untuk membuktikan kebenaran pengetahuan berdasarkan otoritas
(keagamaam) sebagaimana dilakukan pada abad Pertengahan.
Ketiga,
epistemologi kritis yang berangkat dari asumsi, prosedur dan kesimpulan
pemikiran akal sehat atau pun asumsi, prosedur dan kesimpulan pemikiran ilmiah
sebagaimana ditemukan dalam kehidupan kemudian ditanggapi secara kritis asumsi,
prosedur dan kesimpulan tersbut. Sikap kritis diperlukan untuk lebih memahami
sesuatu secara radikal lewat alasan-alasan yang jelas dan kuat.
Berdasarkan
titik tolak pendekatannya dan berdasarkan objek yang dikaji, epistemologi juga
dapat dibagi menjadi dua yaitu epistemologi individual dan epistemologi sosial.
Epistemologi individual berangkat dan didasarkan atas kegiatan manusia
individual sebagai subjek penahu terlepas dari konteks sosialnya, baik tentang
pengetahuan status kognitifnya maupun proses pemerolehannya.
Epistemologi
evolusioner (evolutionary epistemology) atau kadang juga disebut epistemologi
alami (natural epistemologi) termasuk jenis epistemologi individual. Sedangakan
epistemologi sosial adalah kajian filosofis terhadap pengetahuan sbagai batas
sosiolagis. Bagi epistetmologi sosial, hubungan sosial, kepantingan sosisl dan
lembaga sosial dipandang sebagai faktor-faktor yang amat menentukan dalam
proses, cara, maupun pemerolehan pengetahuan.
Epistemologi
sangat penting untuk dipelajari karena alasan yang mendasar dari pertimbangan
srategis, pertimbangan kebudayaan dan pertimbangan pendidikan. Ketiganya
berpangkal pada pentingnya pengetahuan pada kehidupan manusia. Berdasarkan
pertimbangan srategis, epistemplogi perlu karena pengetahuan sendir merupakan
hal yang sacara srategis perlu bagi perkembangna manusia berdasarkan
pertimbangan kebudayaan, penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengtahuan
merupakan salah satu unsur dasar kebudayaan.
Dari segi
petimbangan kebudayaan menpelajari epistemologi diperlukan untu mengungkap
pandangan epestimologis yang seharusnya ada dan terkandung dlam setiap
kebudayaan. Sedangkan berdasarkan pertimbangan pendidikan, epistemologi perlu
dipelajari karena manfaatnya untuk bidang pendidikan secara faktual.
3. Dimensi Aksiologi
Aksiologi
dalam fisafat ilmu berarti menyajikan hubungan antra etika dan ilmu, dimana
etika sangat terkait hubungannya (inhaerent) dengan ilmu. Persoalan aksiologi
adalah seputar bebas nilai atau tidaknya ilmu, hal ini merupakan persoalan yang
rumit, tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Mereka yang berfaham
ilmu itu bebeasnilai menggunakan pertimbangan yang yang didasarkan asat nilai
diri yang diwakili oleh ilmu yang bersangkutan.
Aksiologi
ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki ilmu pengetahuan, pada umunya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan. Sedangkan etika merupakan cabang aksiologi
yang pada pokoknya membicarakan masalah perdikat-orediakt nilai “betul”
(right), “salah”(wrong) dalam arti “susila”(moral) dan “tidak susila”
(immoral). Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuanyang bersangkutan
dengan masalah masalah nilai yangkhusus seperti, ekonomi, estetika, etika,
filsafat agama dan spistemologi. Epistemologi berkaitan dengan masalah
kebenaran etika bersangkutan dengan masalah kabaikan (kesusilaan), dan estetika
berkaitan dengan masalah keindahan. Aksiologi juga menyelidiki berbagai
pernyataan-pernyataan tentang etika dan estetika. Ilmu yang bersangkutan dengan
hal terebut adalah fisafat nilai.
Pendekatan-Pendekatan dalam Aksiologi.
Pertanyaan
mengenai hakikat nilai dapat dijwab dengan tiga macam cara: pertama, nilai
sepenuhnya berhakikat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai-nilai
merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan
keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalamannya. Hal ini dapat dinamakan
dengan “subjektivitas”. Kedua, nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan
ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu.
Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalkui
akal. Pendirian ini juga dinamakan sebagai “objektivitas logis”. Ketiga, nilai-nilai
merupakn unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan. Hal itu disebut sebagai
“objektifvisme metafisik”.
a. Nilai Merupakan Kualitas Empiris yang
Tidakdapat Didefinisikan.
Kualitas
empiris ialah kualita yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman.
Contoh dar hal itu adalah pengertian “baik” dan “kuning”, kedua-duanya
merupakan pengertian-pengetian yang bersahaja, dengan cara apa pun tidak akan
dapat menerangkan warna kuning dan baik kepada seserang yang belum mengelnal
warna tersebut. Nilai dapat dijelaskan dari sisi kualitas objek atau perbuatan
tertentu. Artinya pemahaman terhadap nilai bisa dipahami lewat verifikasi
melalui pengalaman.
b. Nilai Sebagai Objek Suatu Kepentingan.
Hal
tersebut dapat dipahami karena setiap nilai merupakan suat sikap tertentu dari
manusia. Menurut perry setiap objek yang ada dalam kenyataan maupun dalam
pikiran, setiap perbuatn ynag dilakukan maupun yang dipikirkan, dapat
memperoleh nilai jika pada sustu ketika berhubungan dengan subjek-subjek yang
mempunyai kepentingan. Jika seseorang mempunyai kepentingan pada suatu apa pun,
maka hal tersebut mempunyai nilai. Berkaitan dengan nilai sebagai objek sebagai
kepentingan, tersdia tiga macam kemungkinan: Pertama, sikap setuju atau
menentang tersebut samasekali tidak bersangkut paut dengan masalah nilai.
Kedua, sikap tersebut bersangkutan dengan
sesuatu yang tidak hakiki.
Ketiga, sikap tersebut merupakan sumber
pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai.
Teori Pragmatis Mengenai Nilai.
Selain
teori nilai diatas ada teori lain mengenai nilai yaitu, teori pragmatis.
Pragmatisme mendasarkan diri atas akibat-akibat, dan juga hasil-hasil.menurut
Jhon Dewey, nilai bukanlah sesuatu yang dicari untuk ditemukan, nilai bukanlah
suatu kata benda atau bahkan juga bukan kata sifat. Masalah nilai sesungguhnya
berpusat disekitar memberi nilai. Bagi Dewey antara sarana dan tujuan tak
terpisahkan karena keduanya merupakan perangkat nilai yang evektif. Pemberian
nilai, seperti halnya semua proses akali bermula hanya apabila orang menghadapi
sesuatu masalah, artinya bermula pada sesuatu keadaan yang didalamnya terdapat
ketegangan dan tiadanya ketertiban.maka penilaian yang dilakukannya bersifat
dinamisserta relaitf terhadap situasi yang kongkret, penilaian tersebut dapat berubah
sejalan dengan perubahan kondisi. Menurut Dewey, setiap situasi menciptakan
nilai-nilai, nilai setiap menciptakan nilai-nilai setip nilai tidak ada yang
abadi yang ada hanyalah nilai-nilai yang berubah-ubah.
c. Nilai Sebagai Esensi.
Sesungguhnya nilai-nilai ada dalam kenytaan
namun tidaklah ber eksistensi. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi
yang terkandung dalam barang sesuatu serta perbuatan-perbuatan. Sebagai esensi,
nilai tidak bereksistensi, namun ada salam kenyataan. Nilai-nilai dapat
dikatakan mendasari barang sesuatu dan bersifat tetap. Contoh, nilai
perdamaian, didalamnya itu sendiri terdapat nilai yang mendasarinya.
Nilia-nilai dipahami secara langsung melalui “indera nilai”. Pengetahuan
mengenai nilai bersifat apriori dalam arti tidak tergantung pada pengalaman
dalam arti kata yang biasa, nilai diketahui secara langsung baik orang dapat
atau tidak menangkapnya.
Jawaban-jawaban Etika.
Etika
sebagai ilmu pengetahuan dapa berarti penyelidikan mengenai tanggapan-tanggapan
kesusilaan, sedangakan etika sebagai ajaran bersangkutan dengan membuat
tanggapan-tanggapan kesusilaan. Paling tidak ada empat bentuk etika yaitu etika
deskriptif, etika normatif, etika pragtis dan etika kefilsafatan. Etika
deskriptif sekedar melukiskan predikat-predikat seta tangapan-tanggapan
kesusilaan yang telah diterima dan digunakan. Etika normatif bersangkutan
dengan penyaringan ukuran-ukuran kesusilaan yang khas. Etika kefilsafatan
mempertanyakan makna yang dikandung oleh intilah-istilah kesusilaan, yang
dipakai untuk membuat tanggapan-tanggapan kesusialaan. Sedangakan etika pragtis
merupakan jawaban-jawaban pragtis, dinamis, dari perbuatan.
Contoh
dari tanggapan etika adalah etika teleologis, hedonis, etika kelas sosial,
etika teologis dan etika relativistis. Suatu ajaran yang mendasarkan diri pada
suatu tujuan terakhir dinamakan ajaran teleologis. Suatu teori yang memberi
titik berat pada kenikmatan atau kebahagiaan dikatakan hedonistik. Hedonisme
merupakan suatu teori yang mengtakan bahwa kenikmatan atau akibat akibat yang
nikmat dalamdirinya sudah mengandung kebaikan. Etika kelas sosial sebagaimana
menurut Karl Marx adalah etika yang didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan
masyarakat, ukuran-ukuran kesusilaan timbul dari kebutuhan sosial. Etika
teologis mendasarkan prinsip-prinsip kesusilaan pada ajaran ketuhanan,
ukuran-ukuran kebaikan tertinggi adalah wahyu atau petunjuk dari tuhan lewat
ajaran-ajaran agama. Etika relativistis memberi kesangsian kepada nilai-nilai
etika yang terkandung dalam ajaran etika terdahulu karena menurut etika ini
terdapat kenisbian kesusilaan dan terdapat perbedaan –perbedaan yang sangat
besar antara perangakat kesusilaan yang berlaku pada kelompok manusia yang satu
dengan yang berlaku pada kelompok manusia lainnya.
Etika Meurut Islam.
Kebenaran suatu ilmu pengetahua,menurut
islam adalah sebanding dengan kemanfaatan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan
yang berman faat adalah apabila: 1.) mendekatkan pada kebenarn Allah dan bukan
menjauhkan. 2.) Dapat membantu umat merealisakan tujuan-tujuannya. 3.) dapat
memberikan pedoman bagi sesama manusia. 4.) dapat menyalesaikan persoalan umat.
Dalam islam suatu hal mengandung kebenaran apabial ia mengandung manfaat dalam
arti luas, juga sejauh mana sesui dengan tuntutan kearifan dan keadilan, bukan
hanya korespondensi antara kenyataan denga fakta sebagaimana konsepsi dari
rasionalis-positivistik. Realitas dan kebenaran manusia harus mencakup wilayah
rohaidan jasmani sekaligus. Tentang baik, buruk, indah dan jelek (termasuk
ilmu), semua berpaling pada sumber-sumber moral dan pengkajian estetika.
Menurut Soedjatmoko bahwa tujuan-tujuan ilmu pengetahuan, cara-cara
pengembangannya pengendalian lembali ilmu dan teknologi, yang baik dan yang
batil dari ilmu dan teknologi, fundamendanpatoan tentangmakna dan moralitas itu
berakar pada agama.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagai
suatu disiplin, filsafat ilmu berusaha untuk menjelaskan unsur-unsur yang
terlibat dalam proses penelitian ilmiah yaitu prosedur-posedur pengamaatan,
pola argument, metode penyajian dan penghitungan, praandaian-praandaian
metafisik dan seterusnya. Kemudian mengevaluasi dasar-dasar validitasnya
bedasarkan sudut pandang logika formal, metodologi praktis dan metafisika
Jangkauan
filafat ilmu apabila ditinjau dari paradigma keluasannya ada beberapa dimensi
yang bisa menjadi cakupan kajiannya. Pertama, dimensi ilmu yang bersifat
reflektif abstrak dan formal tersir dari dua: dimensi filsafat dan dimensi
logis. Dari sudut tinjauan filsafat maka ilmu dapat dipandang sebagai suatu
pandangan dunia (world view) atau nilai manusiawi (human value). Tinjuan dari
sudut logika membahasa internal consistensi pada proposisi-proposisi ilmu atau
menekankan hampir formal yang menurut Albert Einstein, tujuan segala ilmu,
entah ilmualam atau psikologi adalah mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman
kita dan menjadikan pengalaman tersebut menjadi pengalaman logis. Dimensi ilmu
lainnya yang berpangkal pada aspek realitas di dunia adalah: cultural dimension
(dimensi kebudayaan), historical dimension (dimensi sejarah), humanistic
dimension (dimensi kemanusiaan), recreational dimension(dimensi rekreasi), dan
system dimension (dimensi sistem).
Sedangkan
dimensi filsafat ilmu yang sering menjadi kajian secara umum yaitu meliputi
tiga hal: dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi.
Ketiganya merupakan cakupan yang meliputi dari keseluruhan–keseluruhan
pemikiran kefilsafatan. Dimensi yang pertama, membahas dan mengetahui tentang
asas-asas rasional dari yang – ada, mengetahui esensi dari yang ada. Dimensi
epistemologi menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya
pengetahuan. Sedangkan dimensi aksiologi berusaha mengetahui hubungan antara
ilmu dan etika yang mempertanyakan mengenai nilai-nilai yang dijadikan sebagai
kunci keputusan dan tindakan manusia. Pemahaman terhadap ketiga dimensi di atas
sangat penting, karena merupakan pokok pemahaman dari kerangka pemikiran
filsafati. Dari makalah ini akan sedikit menguraikan ketiga dimensi tersebut.
Ontologi
merupakan cabang filsafat yang menggeluti tata dan sruktus realitas dalam arti
seluas mungkin. Epistemologi merupakan bagian dari filsafat yang menelaah
hakikat, jangkauan, pengandaian dan pertanggungjawaban pengetahuan. Sedangakan
aksiologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki hakikat nilai, etika dan
estetika ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
DAFTAR PUSTAKA
Gie, The Liang, Pengantar Filsafat ilmu,
Yogyakarta: Liberti Yogyakarta, 2000.
Hadi, P. Hardono, Tanggung Jawab
Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Kattsoff, Louis O., Pent. Soejono
Soemarjono, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1996.
Pranarka, Epistemologi Dasar, yogyakarta:
Kanisius, 2006.
Ravertz, Jerome R., FIlsafat Ilmu, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004.
Russell, Bertrand, Pent.Sigit dkk, Sejarah
Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno
Hingga Sekarang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.







0 komentar:
Posting Komentar