BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan kehidupan Imu mengalami kemajua
n. Perkembangan ilmu ini dapat terwujud karena adanya aktivitas yang berupa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan. Beberapa orang ahli filsafat diantaranya Francis Bacon (1561-1620) dan Karl Popper dan Thomas Kuhn telah melakukan pengamatan atas aktivitas atau cara kerja ilmuwan tersebut. Para pengamat yang bukan ilmuwan sains menyebut cara kerja ini sebagai metode ilmiah.
Banyak ilmuwan mengemukakan bahwa metode ilmiah yang dikemukakan oleh Bacon dan Popper itu terlalu sederhana dan kurang memadai. Mereka mengemukakan bahwa metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan yang berupa : pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi.
Dalam perkembangan kehidupan Imu mengalami kemajua
n. Perkembangan ilmu ini dapat terwujud karena adanya aktivitas yang berupa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan. Beberapa orang ahli filsafat diantaranya Francis Bacon (1561-1620) dan Karl Popper dan Thomas Kuhn telah melakukan pengamatan atas aktivitas atau cara kerja ilmuwan tersebut. Para pengamat yang bukan ilmuwan sains menyebut cara kerja ini sebagai metode ilmiah.
Banyak ilmuwan mengemukakan bahwa metode ilmiah yang dikemukakan oleh Bacon dan Popper itu terlalu sederhana dan kurang memadai. Mereka mengemukakan bahwa metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan yang berupa : pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi.
Sebagai “Home Sapiens “ manusia
tidak akan pernah berhenti berpikir selama hidupnya, terlepas dari kadar atau
tingkatan masalah yang dipikirkannya. Apakah masalah biasa (sederhana), masalah
ilmiah, atau bahkan masalah filsafat.
Apakah manusia berpikir dengan menekankan kegunaannya dari pada kebenarannya ini termasuk dalam tingkatan berpikir biasa. Apabila manusia berpikir dengan menekankan kebenarannya dari pada kegunaanya sebagai batas pengalaman termasuk dalam tingkatan berpikir ilmiah. Dan apabila manusia berpikir secara komprehensif, mendasar dan spekulatif melewati batas pengalaman ini termasuk tingkatan berfikir filsafat.
Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk mengkaji metode ilmiah ditinjau dari filsafat ilmu. Hal ini penting sekali karena dalam makalah tersebut juga akan dibahas tentang penemuan ilmiah secara logis dan kritis.
Apakah manusia berpikir dengan menekankan kegunaannya dari pada kebenarannya ini termasuk dalam tingkatan berpikir biasa. Apabila manusia berpikir dengan menekankan kebenarannya dari pada kegunaanya sebagai batas pengalaman termasuk dalam tingkatan berpikir ilmiah. Dan apabila manusia berpikir secara komprehensif, mendasar dan spekulatif melewati batas pengalaman ini termasuk tingkatan berfikir filsafat.
Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk mengkaji metode ilmiah ditinjau dari filsafat ilmu. Hal ini penting sekali karena dalam makalah tersebut juga akan dibahas tentang penemuan ilmiah secara logis dan kritis.
B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan di membahas dalam makalah ini adalah tentang argumentasi ilmiah dan metode ilmiah. Hal ini menarik untuk di kaji karena metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah.
Permasalahan yang akan di membahas dalam makalah ini adalah tentang argumentasi ilmiah dan metode ilmiah. Hal ini menarik untuk di kaji karena metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah.
C.Tujuan Pembelajaran
1. Dapat Mengetahui Argumentasi
Ilmiah
2.Dapat mengetahui
Metode-Metode Ilmiah
BAB II
PEMBAHASAN
A.Peranan Logika
Alasan yang dikemukakan dalam
berargumentasi ilmiah haruslah melalui jalan pikiran atau penalaran yang
mengikuti aturan atau pedoman tertentu sehingga jalan pikiran itu tidak kacau.
Ilmu yang mempelajari atau meneliti asas-asas dan hukum-hukum yang mengatur
pemikiran manusia agar dapat dilakukan secara tertib dan dapat mencapai
kebenaran disebut logika. Logika merupakan kondisi dan tuntutan fundamental
mutlak untuk memperkokoh eksistensi ilmu pada umumnya, yang secara sistematis
meneliti, merumuskan, dan menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang
dapat berpikir dengan tepat, lurus, dan teratur. Berpikir adalah suatu bentuk
kegiatan akal yang khas dan terarah untuk mengolah pengetahuan yang kita terima
melalui indera kita, ditujukan untuk mencapai kebenaran. Berpikir adalah
berdialog dengan diri sendiri di dalam batin, sedangkan kegiatan penalaran
merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Suatu argumen dikatakan valid atau sahih apabila kesimpulan yang terdapat
pada argumen tersebut mempunyai kaitan dengan premis-premis sedemikian rupa
sehingga kesimpulan itu benar apabila premis-premis yang mendahuluinya benar.
Peranan logika menjadi penting karena pada dasarnya logika mengevaluasi
validitas suatu argumen, sedangkan argumen merupakan salah satu syarat bagi
pengembangan ilmu. Tanpa menggunakan logika dalam mengemukakan penalarannya
para ilmuwan tidak mungkin dapat mengembangkan ilmunya.
Silogisme adalah argumen yang
terdiri atas dua buah premis atau lebih yang memberikan bukti-bukti dari sebuah
kesimpulan yang diperoleh dari premis-premis tersebut. Peranan silogisme
kategorik yang dilandasi oleh logika, menjadi pedoman untuk menyatakan pikiran
secara tertib dan teratur. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari atau dalam
rapat serta diskusi seringkali kita harus mengemukakan suatu pernyataan yang
diinginkan dapat diterima oleh semua pihak. Keputusan bersyarat dinyatakan
benar jika hubungan bersyarat di dalamnya itu benar. Silogisme merupakan
argumen deduktif apabila melibatkan, bukti-bukti yang mendukung kesimpulan atau
pembuktian. Pernyataan-pernyataan dalam argumen bermula dari yang bersifat umum
menuju kesimpulan yang merupakan pernyataan yang bersifat lebih khusus atau
kurang umum. Premis mayor menyatakan suatu syarat yang menjadi gantungan benar
tidaknya konsekuens, sedangkan premis minor menyatakan dipenuhinya syarat itu.
Dengan demikian, kesimpulan menyatakan benarnya konsekuens. Pada argumen
deduktif kita menarik kesimpulan berdasarkan apa yang tersedia dalam kedua
premis, sedangkan pada argumen induktif kita berangkat dari beberapa contoh
atau kasus yang dalam banyak hal belum teruji kebenarannya serta membuat
generalisasi yang berupa kesimpulan yang belum pasti. Bagi ilmuwan, hasil
penelitian secara ilmiah sebagai suatu proses menalar secara induktif merupakan
keyakinan individual yang akan senantiasa dipertahankan. Apabila pada kurun
waktu tertentu timbul teori atau hukum baru sebagai hasil generalisasi induktif
yang teruji serta didukung kuat, oleh bukti-bukti baru maka teori atau hukum
yang lama dapat ditinggalkan atau tidak diakui lagi kebenarannya. Pengambilan
kesimpulan secara induktif yang kurang didukung oleh data yang akurat atau
sampel yang diambil kurang representatif akan mengakibatkan kesalahan. Pada
argumen induktif probabilitas generalisasi induktifnya tergantung pada kualitas
hal-hal khusus yang mendukungnya.
2.2 Metode-Metode Ilmiah
A. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah
atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah
proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan
terkontrol
a.Metode ilmiah merupakan proses berpikir
untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang
perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode
ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula
berdasarkan data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan
masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah,
maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang
dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun
proses selanjutnya.
b. Pada Metode Ilmiah, proses
berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara
sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini
dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan.
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode
ilmiah secara sistematis dan berurutan.
c. Metode ilmiah didasarkan pada
data empiris
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data
empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya
atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil
pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan
salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah
dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk
metode ilmiah.
d.
Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat
melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol.
Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan
secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin
membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang
berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan
tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
B. CIRI-CIRI METODE ILMIAH
- Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
- Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
- Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
- Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
- Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
C. Langkah-Langkah Metode Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan
berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam
pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan
terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
- Merumuskan masalah.
- Merumuskan hipotesis.
- Mengumpulkan data.
- Menguji hipotesis.
- Merumuskan kesimpulan.
a. MerumuskanMasalah
Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan
kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam
bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan
memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang
dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan
masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah
permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum
dirumuskan?
b. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan
masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah
dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis
sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada
proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan
penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu
melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan
data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah
dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
c. Mengumpulkan
Data
Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda
dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan
di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu
mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan
data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan
pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung
pada data yang dikumpulkan.
d. Menguji Hipotesis
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah
jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah
pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan
atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan
hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum
pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf
signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan
semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini
dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan
suatu pengujian hipotesis itu sendiri.
e. Merumuskan Kesimpulan
Langkah paling akhir dalam berpikir
ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan
simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya.
Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat
tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan
dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu
ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya
penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang
diajukannya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dengan kita menggunakan
argumentasi ilmiah dan metode-metode ilmiah kita dapat berfikir dengan benar
dan fikiriran kita dapat terkontrol baik disamping itu dengan langkah – langkah
metode ilmiah kita dapat memecahkan masalah.
3.2 Saran
Dengan
penyusunan makalah ini, penulis berharap pengetahuan mengenai argumentasi
ilmiah dan metode-metode ilmiah dapat digunakan sebagai jalan pikiran atau
penalaran sesuai dengan pedoman tertentu.
Ø DAFTAR PUSTAKA
·
https://massofa.wordpress.com
·
penelitiantindakankelas.blogspot.com







0 komentar:
Posting Komentar