Blogroll

Minggu, 15 Oktober 2017

METODE ILMIAH



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan kehidupan Imu mengalami kemajua

n. Perkembangan ilmu ini dapat terwujud karena adanya aktivitas yang berupa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan. Beberapa orang ahli filsafat diantaranya Francis Bacon (1561-1620) dan Karl Popper dan Thomas Kuhn telah melakukan pengamatan atas aktivitas atau cara kerja ilmuwan tersebut. Para pengamat yang bukan ilmuwan sains menyebut cara kerja ini sebagai metode ilmiah.
Banyak ilmuwan mengemukakan bahwa metode ilmiah yang dikemukakan oleh Bacon dan Popper itu terlalu sederhana dan kurang memadai. Mereka mengemukakan bahwa metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan yang berupa : pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi.
Sebagai “Home Sapiens “ manusia tidak akan pernah berhenti berpikir selama hidupnya, terlepas dari kadar atau tingkatan masalah yang dipikirkannya. Apakah masalah biasa (sederhana), masalah ilmiah, atau bahkan masalah filsafat.
 Apakah manusia berpikir dengan menekankan kegunaannya dari pada kebenarannya ini termasuk dalam tingkatan berpikir biasa. Apabila manusia berpikir dengan menekankan kebenarannya dari pada kegunaanya sebagai batas pengalaman termasuk dalam tingkatan berpikir ilmiah. Dan apabila manusia berpikir secara komprehensif, mendasar dan spekulatif melewati batas pengalaman ini termasuk tingkatan berfikir filsafat.  
    Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk mengkaji metode ilmiah ditinjau dari filsafat ilmu.  Hal ini penting sekali karena dalam makalah tersebut juga akan dibahas tentang penemuan ilmiah secara logis dan kritis.
B. Perumusan Masalah
    Permasalahan yang akan di membahas dalam makalah ini adalah tentang argumentasi ilmiah dan metode ilmiah. Hal ini menarik untuk di kaji karena metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah.
C.Tujuan Pembelajaran
1. Dapat Mengetahui Argumentasi Ilmiah
2.Dapat mengetahui Metode-Metode Ilmiah
                                                              BAB II
                                                       PEMBAHASAN

2.1 ARGUMENTASI ILMIAH
A.Peranan Logika
Alasan yang dikemukakan dalam berargumentasi ilmiah haruslah melalui jalan pikiran atau penalaran yang mengikuti aturan atau pedoman tertentu sehingga jalan pikiran itu tidak kacau. Ilmu yang mempelajari atau meneliti asas-asas dan hukum-hukum yang mengatur pemikiran manusia agar dapat dilakukan secara tertib dan dapat mencapai kebenaran disebut logika. Logika merupakan kondisi dan tuntutan fundamental mutlak untuk memperkokoh eksistensi ilmu pada umumnya, yang secara sistematis meneliti, merumuskan, dan menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang dapat berpikir dengan tepat, lurus, dan teratur. Berpikir adalah suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah untuk mengolah pengetahuan yang kita terima melalui indera kita, ditujukan untuk mencapai kebenaran. Berpikir adalah berdialog dengan diri sendiri di dalam batin, sedangkan kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Suatu argumen dikatakan valid atau sahih apabila kesimpulan yang terdapat pada argumen tersebut mempunyai kaitan dengan premis-premis sedemikian rupa sehingga kesimpulan itu benar apabila premis-premis yang mendahuluinya benar. Peranan logika menjadi penting karena pada dasarnya logika mengevaluasi validitas suatu argumen, sedangkan argumen merupakan salah satu syarat bagi pengembangan ilmu. Tanpa menggunakan logika dalam mengemukakan penalarannya para ilmuwan tidak mungkin dapat mengembangkan ilmunya.

B.Argumen Deduktif dan Induktif
Silogisme adalah argumen yang terdiri atas dua buah premis atau lebih yang memberikan bukti-bukti dari sebuah kesimpulan yang diperoleh dari premis-premis tersebut. Peranan silogisme kategorik yang dilandasi oleh logika, menjadi pedoman untuk menyatakan pikiran secara tertib dan teratur. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari atau dalam rapat serta diskusi seringkali kita harus mengemukakan suatu pernyataan yang diinginkan dapat diterima oleh semua pihak. Keputusan bersyarat dinyatakan benar jika hubungan bersyarat di dalamnya itu benar. Silogisme merupakan argumen deduktif apabila melibatkan, bukti-bukti yang mendukung kesimpulan atau pembuktian. Pernyataan-pernyataan dalam argumen bermula dari yang bersifat umum menuju kesimpulan yang merupakan pernyataan yang bersifat lebih khusus atau kurang umum. Premis mayor menyatakan suatu syarat yang menjadi gantungan benar tidaknya konsekuens, sedangkan premis minor menyatakan dipenuhinya syarat itu. Dengan demikian, kesimpulan menyatakan benarnya konsekuens. Pada argumen deduktif kita menarik kesimpulan berdasarkan apa yang tersedia dalam kedua premis, sedangkan pada argumen induktif kita berangkat dari beberapa contoh atau kasus yang dalam banyak hal belum teruji kebenarannya serta membuat generalisasi yang berupa kesimpulan yang belum pasti. Bagi ilmuwan, hasil penelitian secara ilmiah sebagai suatu proses menalar secara induktif merupakan keyakinan individual yang akan senantiasa dipertahankan. Apabila pada kurun waktu tertentu timbul teori atau hukum baru sebagai hasil generalisasi induktif yang teruji serta didukung kuat, oleh bukti-bukti baru maka teori atau hukum yang lama dapat ditinggalkan atau tidak diakui lagi kebenarannya. Pengambilan kesimpulan secara induktif yang kurang didukung oleh data yang akurat atau sampel yang diambil kurang representatif akan mengakibatkan kesalahan. Pada argumen induktif probabilitas generalisasi induktifnya tergantung pada kualitas hal-hal khusus yang mendukungnya.
2.2 Metode-Metode Ilmiah
A. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol
 a.Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.
b. Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.
c. Metode ilmiah didasarkan pada data empiris
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.
d.  Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
B. CIRI-CIRI METODE ILMIAH
  • Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.

  • Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.

  • Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.

  • Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

  • Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.

C. Langkah-Langkah Metode Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
  1. Merumuskan masalah.
  2. Merumuskan hipotesis.
  3. Mengumpulkan data.
  4. Menguji hipotesis.
  5. Merumuskan kesimpulan.
a.       MerumuskanMasalah
Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?
b.      Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
c.       Mengumpulkan Data
Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.
d.      Menguji Hipotesis
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.
e.      Merumuskan Kesimpulan
Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.
BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Dengan kita menggunakan argumentasi ilmiah dan metode-metode ilmiah kita dapat berfikir dengan benar dan fikiriran kita dapat  terkontrol  baik disamping itu dengan langkah – langkah metode ilmiah kita dapat memecahkan masalah.
3.2 Saran
Dengan penyusunan makalah ini, penulis berharap pengetahuan mengenai argumentasi ilmiah dan metode-metode ilmiah dapat digunakan sebagai jalan pikiran atau penalaran sesuai dengan pedoman tertentu.
Ø  DAFTAR PUSTAKA
·         https://massofa.wordpress.com
·         penelitiantindakankelas.blogspot.com


0 komentar:

Posting Komentar