BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang masalah
Semua manusia
bisa berfilsafat. Kenapa bisa begitu ? karena filsafat adalah aktifitas
berpikir, selama manusia bisa berpikir maka dia berfilsafat.
Awalnya filsafat
disebut ilmu pengetahuan sebab filsafat seakan-akan mampu menjawab pertanyaan
tentang segala sesuatu atau segala hal yang berhubungan dengan alam semesta
maupun manusia dengan segala problematika dan kehidupan. Namun seiring dengan
perubahan zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan
berbagai disiplin ilmu baru dengan masing-masing speliasisnya, filsafat
seakan-akan telah berubah fungsi dan perannya.
B.
Tujuan
pembelajaran
Makalah ini
dibuat dengan tujuan untuk mengetahui sejarah lahir dan berkembangnya filsafat,
cabang-cabang filsafat dan aliran-aliran filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH LAHIRNYA
FILSAFAT
Filsafat lahir dari beberaa masa diantaran adalah sebagai berikut.
a. Masa Yunani
Yunani terletak di Asia Kecil. Kehidupan
penduduknya sebagai nelayan dan pedagang, sebab sebagian besar penduduknya
tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat menguasai jalur perdagangan di
Laut Tengah.
Kebiasaan mereka hidup di alam
bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang dianutnya, yaitu
berdasarkan kekuatan alam, sehingga beranggapan bahwa hubungan manusia dengan
Sang Maha Pencipta bersifat formalitas. Artinya kedudukan Tuhan terpisah dengan
kehidupan manusia.
Kepercayaan yang bersifat
formalitas (natural religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini
ditentang oelh Homerus dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu Ilias dan
Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat
edukatif. Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukannya seperti
wayang purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.
Pada abad ke-6 SM, bermunculan
para pemikir yang berkepercayaan sangat bersifat rasional (cultural religion)
menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan
justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural
religius berubah menjadi sistem cultural religius.
Dalam sistem kepercayaan natural
religius ini manusia terikat oleh tradisionalisme. Sedangkan dalam sistem kepercayaan
kultural religius ini memungkinkan manusia mengembangkan potensi dan budayanya
dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikirannya untuk menghadapai dan
memecahkan berbagai kehidupan alam dengan akal pikiran.
Ahli pikir pertama kali yang muncul
adalah Thales (625 – 545 SM) yang berhasil mengembangkan geometri dan
matematika. Likipos dan Democritos mengembangkan teori materi, Hipocrates
mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan geometri edukatif, Socrates
mengembangkan teori tentang moral, Plato mengembangkan teori tentang ide,
Aristoteles mengembang teori tentang dunia dan benda serta berhasil
mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). Suatu keberhasilan yang
luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran
(logika formal) yang sampai sekarang masih terkenal.
Para ahli pikir Yunani Kuno ini
mencoba membuat konsep tentang asal mula alam. Walaupun sebelumnya sudah ada
tentang konsep tersebut. Akan tetapi konsepnya bersifat mitos yaitu mite
kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite kosmologis (tentang
asal-usul serta sifat kejadian-kejadia dalam alam semesta), sehingga konsep
mereka sebagai mencari asche (asal mula) alam semesta, dan mereka disebutnya
sebagai filosof alam.
Oleh karena arah pemikiran
filsafatnya pada alam semesta maka corak pemikirannya kosmosentris. Sedangkan
para ahli pikir seperti Socrates, Plato dan Aristoteles yang hidup pada masa
Yunani Klasik karena arah pemikirannya pada manusia maka corak pemikiran
filsafatnya antroposentris. Hal ini disebabkan, arah pemikiran para ahli pikir
Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subyek yang harus bertanggung
jawab terhadap segala tindakannya.
b. Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya
filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh
kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi
oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat abad pertengahan
didominasi oelh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma
agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.
Baru pada abad ke-6 Masehi,
setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung, maka didirikanlah
sekolah-sekolah yang memberi pelajaran gramatika, dialektika, geometri,
aritmatika, astronomi dan musik. Keadaan yang demikan akan mendorong
perkembangan pemikiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya
universitas-universitas dan ordo-ordo. Dalam ordo inilah mereka mengabdikan
dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama, seperti Anselmus (1033 – 1109),
Abaelardus (1079 – 1143), Thomas Aquinas (1225 – 1274).
Di kalangan para ahli pikir Islam
(periode filsafat Skolastik Islam) muncul al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina,
al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Periode skolastik Islam ini
berlangsung tahun 850 – 1200. pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung dan
ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Akan tetapisetelah jatuhnya kerajaan
Islam di Granada di Spanyol tahun 1492 mulailah kekuasaan politik Barat menjarah
ke Timur. Suatu prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan
terutama dalam bidang filsafat. Di sini mereka merupakan mata rantai yang
mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang dilakukan oelh sarjana-sarjana
Islam di Timur terhadap Eropa dengan menambah pikiran-pikiran Islam sendiri.
Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap bahwa filsafat Aristoteles
adalah benar, Plato dan Al-Qur’an adalah benar, mereka mengadakan perpaduan dan
sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian pikiran-pikiran ini masuk ke
Eropa yang merupan sumbangan Islam yang paling besar, yang besar pengaruhnya
terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat terutama dalam bidang teologi
dan ilmu pengetahuan alam. Peralihan dari abad pertengahan ke abad modern dalam
sejarah filsafat disebut sebagai masa peralihan (masa transisi), yaitu
munculnya Renaissance dan Humanisme yang berlangsung pada abad 15-16. munculnya
Renaisance dan Humanisme inilah yang mengawali masa abad modern. Mulai zaman
modern inilah peranan ilmu alam kodrat sangat menonjol, sehingga akibatnya
pemikiran filsafata semakin dianggap sebagai pelayan dari teologi, yaitu
sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang
dapat dicapai oleh akal manusia.
c. Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat
berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan
kehidupan, sehingga corak pemikirannnya antroposentris, yaitu pemikiran
filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan pengalaman.
Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaisance
dan Humanisme sebagai awal masa abad modern. Di mana para ahli (filosof)
menjadi pelopor perkembangan filsafat (kalau pada abad pertengahan yang menjadi
pelopor perkembangan filsafat adalah para pemuka agama). Dan pemikiran filsafat
masa abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode logis ilmiah.
Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran
filsafat diarahkan pada upaya manusia agar dapat mengasai lingkungan alam
dengan menggunakan berbagai penemuan ilmiah.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode
induksi/ eksperimental dalam berbagai penelitian ilmiah, akibatnya perkembangan
pemikiran filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat
(natural sciences). Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai bapak filsafat modern
yang berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam
dengan ilmu pasti ke dalam pemikiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan, agar
kebenaran dan kenyataan filsafat juga sebagai kebenaran dan kenyataan yang
jelas dan terang.
Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat
mengarah kepada filsafat ilmu pengetahuan, di mana pemikiran filsafat diisi
dengan upaya manusia, bagaimana cara/ sarana apa yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan. Sebagai tokohnya George Berkeley (1685 – 1753), David
Hume (1711 – 1776), Rousseau (1722 – 1778).
Di Jerman muncul Christian Wolft (1679 – 1754) dan
Immanuel Kant (1724 – 1804), yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu
pengethuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan cara membentuk
pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang kuat.
Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah
belah. Pemikiran filsafat pada saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian
tiap-tiap bangsa dengan pengertian dan caranya sendiri. Ada filsafat Amerika,
filsafat Perancis, filsafat Inggris, filasafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah
Hegel (1770-18311), Karl Marx (1818 -1883), August Comte (1798 -1857), JS. Mill
(1806 – 1873), John Dewey (1858 – 1952).
Akhirnya dengan munculnya pemikiran filsafat yang
bermacam-macam ini, berakibat tidak terdapat lagi pemikiran filsafat yang
mendominasi. Giliran selanjutnya lahirlah filsafat kontemporer atau filsafat
dewasa ini.
d. Masa Abad Dewasa Ini
Filsafat dewasa ini atau filsafat
abad ke-20 juga disebut Filsafat Kontemporer yang merupakan ciri khas pemikiran
filsafat adalah desentralisasi manusia. Karena pemikiran filsafat abad ke-20
ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.
Dalam bidang bahasa terdapat
pokok-pokok masalah; arti kata-kata dan arti pernyataan-pernyataan. Masalah ini
muncul karena bahwa realitas sekarang ini banyak bermunculan berbagai istilah,
di mana cara pemakainnnya sering tidak dipikirkan secara mendalam, sehingga
menimbulkan tafsir yang berbeda-beda (bermakna ganda). Maka timbullah filsafat
analitika, yang di dalamnya membahas tentang cara berfikir untuk mengatur
pemakaian kata-kata/ istilah-istilah yang menimbulkan kerancauan, dan sekaligus
dapat menunjukkan bahaya-bahaya yang terdapat di dalamnya. Oleh karena bahasa
sebagai obyek terpenting dalam pemikiran filsafat, maka para ahli pikir
menyebut sebagai logosentris.
Dalam bidang etika sosial memuat
pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat di dalam masyarakat dewasa
ini.
Kemudian, pada paruh pertama abad
ke-20 ini timbul aliran-aliran kefilsafatan seperti Neo-Thomisme,
Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme,
Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme. Aliran-aliran di atas sampai
sekarang tinggal sedikit yang masih bertahan. Sedangkan pada awal belahan akhir
abad ke-20 muncul aliran kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak
pemikiran dewasa ini seperti Filsafat Analitik, Filsafat Eksistensi,
Strukturalisme, Kritika Sosial.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN FISLAFAT
Sejarah perkembangan filsafat
berkembang atas dasar pemikiran kefilsafatan yang telah dibangun sejak abad
ke-6 SM. Ada dua orang filsuf yang corak pemikirannya boleh dikatakan mewarnai
diskusidiskusi filsafat sepanjang sejarah perkembangannya, yaitu Herakleitos
(535-475 SM) dan Parmenides (540-475 SM).
Pembagian secara periodisasi filsafat barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Pragmatisme, dan NeoKantianianisme dan Neo-tomisme. Pembagian secara periodisasi Filsafat Cina adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman Neo-Konfusionisme, dan. zaman modern. Tema yang pokok di filsafat Cina adalah masalah perikemanusiaan. Pembagian secara periodisasi filsafat India adalah periode Weda, Wiracarita, Sutra-sutra, dan Skolastik. Adapun pada Filsafat Islam hanya ada dua periode, yaitu periode Muta-kallimin dan periode filsafat Islam. Untuk sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sini pembahasan mengacu ke pemikiran filsafat di Barat.
Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-mite menjadi yang lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Pembagian secara periodisasi filsafat barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Pragmatisme, dan NeoKantianianisme dan Neo-tomisme. Pembagian secara periodisasi Filsafat Cina adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman Neo-Konfusionisme, dan. zaman modern. Tema yang pokok di filsafat Cina adalah masalah perikemanusiaan. Pembagian secara periodisasi filsafat India adalah periode Weda, Wiracarita, Sutra-sutra, dan Skolastik. Adapun pada Filsafat Islam hanya ada dua periode, yaitu periode Muta-kallimin dan periode filsafat Islam. Untuk sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sini pembahasan mengacu ke pemikiran filsafat di Barat.
Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-mite menjadi yang lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Perubahan pola pikir tersebut
kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini
alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang
dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan
kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Dari proses
ini kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat, yang akhirnya kita nikmati
dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani
merupakan poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
Priodisasi perkembangan ilmu filsafat
a. zaman praya yunani kuno
a. zaman praya yunani kuno
Pada masa ini manusia masih
menggunakan batu sebagai peralatan. Oleh karena itu, zaman pra Yunani Kuno
disebut juga Zaman Batu yang berkisar antara empat juta tahun sampai 20.000
tahun. Antara abad ke-15 sampai 6-SM, manusia telah menemukan besi, tembaga,
dan perak untuk berbagai peralatan. Abad kelima belas Sebelum Masehi peralatan
besi dipergunakan pertama kali di Irak, tidak di Eropa atau Tiongkok.
Pada abad ke-6 SM di Yunani muncul
lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat di tempat itu disebut suatu peristiwa
ajaib (the greek miracle). Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan
seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani.
Pada bangsa Yunani, seperti juga
pada bangsa-bangsa sekitarnya, terdapat suatu mitologi yang kaya serta luas.
Mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena
mite-mite sudah merupakan percobaan untuk mengerti. Mite-mite sudah memberi
jawaban atas pertanyaan yang hidup dalam hati manusia: dari mana dunia kita?
Dari mana kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu terbenam lagi?
Melalui mite-mite, manusia mencari keterangan tentang asal usul alam semesta
dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite jenis pertama
yang mencari keterangan tentang asal usul alam semesta sendiri biasanya disebut
mite kosmogonis, sedangkan mite jenis kedua yang mencari keterangan tentang
asal usul serta sifat kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis.
Khusus pada bangsa Yunani ialah mereka mengadakan beberapa usaha untuk menyusun
mite-mite yang diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang
sistematis. Dalam usaha itu sudah tampaklah sifat rasional bangsa Yunani.
Karena dengan mencari suatu keseluruhan yang sistematis, mereka sudah
menyatakan keinginan untuk mengerti hubungan mite-mite satu sama lain dan
menyingkirkan mite yang tidak dapat dicocokkan dengan mite lain.
Kedua karya puisi Homeros yang masing-masing
berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan istimewa dalam kesusasteraan
Yunani. Syair-syair dalam karya tersebut lama sekali digunakan sebagai semacam
buku pendidikan untuk rakyat Yunani. Pada dialog yang bernama Foliteia, Plato
mengatakan Homeros telah mendidik seluruh Hellas. Karena puisi Homeros pun
sangat digemari oleh rakyat untuk mengisi waktu terluang dan serentak juga
mempunyai nilai edukatif.
Pengaruh Ilmu Pengetahuan yang pada
waktu itu sudah terdapat di Timur Kuno. Orang Yunani tentu berutang budi kepada
bangsa-bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan dari mereka.
Demikianlah ilmu ukur dan ilmu hitung sebagian berasal dari Mesir dan Babylonia
pasti ada pengaruhnya dalam perkembangan ilmu astronomi di negeri Yunani.
Namun, andil dari bangsa-bangsa lain dalam perkembangan ilmu pengetahuan Yunani
tidak boleh dilebih-lebihkan. Orang Yunani telah mengolah unsur-unsur tadi atas
cara yang tidak pernah disangka-sangka oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Baru
pada bangsa Yunani ilmu pengetahuan mendapat corak yang sungguh-sungguh ilmiah.
Pada abad ke-6 Sebelum Masehi mulai
berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu orang
mulai mencari berbagai jawaban rasional tentang problem yang diajukan oleh alam
semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mythos. Dengan demikian filsafat
dilahirkan.
Pada zaman Pra Yunani Kuno di dunia
ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman
empiris. Di samping itu, kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one-to one
correspondency atau mapping process. Contoh cara menghitung hewan yang akan
masuk dan ke luar kandang dengan kerikil. Namun pada masa ini manusia sudah
mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam.
b. Zaman yunani kuno
b. Zaman yunani kuno
Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai
zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai
gudang ilmu dan filsafat, karena Bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi
mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima
pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu
saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang
senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi
cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan
bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa
filsuf pada masa itu antara lain Thales (625-545 SM), Phytagoras (580-500 SM),
Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), hingga Aristoteles (384-322 SM).
Zaman Kuno meliputi zaman filsafat
pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau
filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala
sesuatu. Menurut Thales arche itu air, Anaximandros berpendapat arche itu “yang
tak terbatas” (to apeiron). Anaximenes arche itu udara, Pythagoras arche itu
bilangan, Heraklitos arche itu api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu
itu terus mengalir (panta rhei). Parmenedes mengatakan bahwa segala sesuatu itu
tetap tidak bergerak.
c. Zaman keemasan filsafat yunani
c. Zaman keemasan filsafat yunani
Pada waktu Athena dipimpin oleh
Perikles kegiatan politik dan filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada
segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis.
Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum muda. Yang menjadi
objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagaimana yang
dikatakan oleh Pythagoras, Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini
ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang baik harus
dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang.
Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati.
Hasil pemikiran Socrates dapat
diketemukan pada muridnya Plato. Dalam filsafatnya Plato mengatakan: realitas
seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi pancaindra dan dunia
yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan
yang kedua dunia ide.
Pendapat tersebut dikritik oleh
Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang
konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah
filsuf realis, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar
sekali. Sumbangan yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu pengetahuan
adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang
memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni
abstraksi fisis, abstraksi matematis, dan metafisis.
Abstraksi yang ingin menangkap
pengertian dengan membuang unsur-unsur individual untuk mencapai kualitas
adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek menangkap unsur kuantitatif
dengan menyingkirkan unsur kualitatif disebut abstraksi matematis. Abstraksi di
mana seseorang menangkap unsur-unsur yang hakiki dengan mengesampingkan
unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis.
Teori Aristoteles yang cukup
terkenal adalah tentang materi dan bentuk. Keduanya ini merupakan
prinsip-prinsip metafisis, Materi adal.ah prinsip yaug tidak ditentukan,
sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan
sebutan Hylemorfisyme.
d. Masa helinitis dan romawi
d. Masa helinitis dan romawi
Pada zaman Alexander Agung (359-323 SM) sebagai kaisar Romawi dari Macedonia dengan kekuatan militer yang besar menguasai Yunani, Mesir, Hingga Syria. Pada masa itu berkembang sebuah kebudayaan trans nasional yang disebut kebudayaan Hellinistis, karena kekuasaan Romawi dengan ekspansi yang luas membawa kebudayaan Yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota Yunani saja, tetapi mencakup juga seluruh wilayah yang ditaklukkan Alexander Agung. Bidang filsafat, di Athena tetap merupakan suatu pusat yang penting, tetapi berkembang pula pusat-pusat intelektual lain, terutama kota Alexandria. Jika akhirnya ekspansi Romawi meluas sampai ke wilayah Yunani, itu tidak berarti kesudahan kebudayaan dan filsafat Yunani, karena kekaisaran Romawi pun pintu di buka lebar untuk menerima warisan kultural Yunani.
Dalam bidang filsafat tetap berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang sungguh-sungguh besar kecuali Plotinus. Pada masa ini muncul beberapa aliran berikut:
Pertama, Sinisme. Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari. Aliran Sinisme merupakan pengembangan dari aliran Stoik.
Kedua, Stoik. Menyatakan penyangkalannya adanya “Ruh” dan “Materi” aliran ini disebut juga dengan Monoisme dan menolak pandangan Aristoteles dengan Dualismenya. Ketiga, Epikurime. Segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa. Setiap tindakan harus dipikirkan akan akibatnya. Aliran ini merupakan pengembangan dari teori atom Democritus sebagai obat mujarab untuk menghilangkan rasa takut pada takhayul. Keempat, Neo Platonisme. Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari yang satu dan ingin kembali kepadanya.
e. Zaman abad pertengahan
Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.
Periode Abad Pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa as. pada permulaan Abad Masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan.
Pada zaman ini kebesaran kerajaan Romawi runtuh, begitu pula dengan peradaban yang didasakan oleh logika ditutup oleh gereja dan digantikan dengan logika keagamaan. Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu. Pada zaman itu akademia Plato di Athena ditutup meskipun ajaran-ajaran Aristoteles tetap dapat dikenal. Para filosof nyaris begitu saja menyatakan bahwa Agama Kristen adalah benar.
Mengenai sikap terhadap pemikiran Yunani ada dua: Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang kafir, karena tidak mengakui wahyu. Menerima filsafat Yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan, kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang sejati maka akal dapat dibantu oleh wahyu.
Filsafat pada zaman Abad Pertengahan mengalami dua periode, yaitu: Periode Patristik, berasal dari kata Latin patres yang berarti bapa-bapa Gereja, ialah ahli-ahli agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Periode ini mengalami dua tahap: 1) Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani, maka agama Kristen memantapkan diri. Keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma-dogma. 2) Filsafat Agustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik. Agustinus melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan. Periode Skolastik, berlangsung dari tahun 800-1500 M. Periode ini dibagi menjadi tiga tahap: 1) Periode skolastik awal (abad ke-9-12), ditandai oleh pembentukan rnetode-metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang Universalia. 2) Periode puncak perkembangan skolastik (abad ke-13), ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan Yahudi. Puncak perkembangan pada Thomas Aquinas. 3) Periode skolastik akhir (abad ke-14-15), ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang ke arah nominalisme, ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Pengertian umum hanya momen yang tidak mempunyai nilai-nilai kebenaran yang objekti.
f. Zaman renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan Abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada Zaman Renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei. Berikut cuplikan pemikiran para filsuf tersebut yaitu Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler (awal 1600-an), dan Galileo Galilei.
g. Zaman modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penentuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengeahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak Zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes (1596-1650), tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat moden. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis turus X dan Y dalarn bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya strugglefor life (perjuangan untuk hidup). JJ. Thompson dengan temuannya elektron.
j. Zaman kontemporer ( abad ke-20 dan seterusnya )
Di antara ilmu khusus yang dibicarakan oleh para filsuf, bidang fisika menempati kedudukan yang paling tiggi. Menurut Traut fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur fundamental yang mernbentuk alam semesta juga menunjukkan bahwa secara historis hubungan antara fisika dengan flsafat terliht dalam dua cara. Pertama, persuasi filosafis mengenai metode fisika, dan dalam interaksi antara pandangan subtasional tentang fisika (misalnya: tentang materi, kuasa, konsep ruang, dan waktu). Kedua, ajaran filsafat tradisional yang menjawab fenornena tentang materi, kuasa, ruang, dan waktu. Dengan demikian, sejak semula sudah ada hubungan yang erat antara filsafat dan fisika.
Fisikawan abad ke-21 adalah Albert Einstain menyatakan bahwa alam itu tidak terhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Di samping teori mengenai fisika, teori alam semesta, dan lain-lain. Zaman Kantemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang rrrengalami kemaj uan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kantemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara rnendalam. Ilmnu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainya, sehingga dihadirkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknolagi kloning.
C.
CABANG-CABANG FILSAFAT
a.
metafisika
Filsafat memiliki cabang-cabang yang
berkembang sesuai dengan persoalan filsafat yang mana filsafat timbul karena
adanya persoalan-peersoalan yang di hadapi oleh manusia. Setelah adanya
persoalan-persoalan tersebut maka muncullah cabang-cabang filsafat. Dimana
cabang-cabang filsafat yang tradisional itu terdiri atas empat yaitu
logika,metafisika,epistemologi,dan etika. Namun demikian berangsur-angsur
berkembang sejalan dengan persoalan yang di hadapi oleh manusia. Untuk
mempermudah pemahaman kita perlu diutarakan kepada cabang-cabang filsafat yang
pokok,yaitu:
Metafisika digunakan untuk
menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Dimana didalam metafisika
terdapat persoalan -persoalan yang dapat di rinci menjadi 3 macam yaitu:
1. Ontologi
2. Kosmologi
3. Antropologi
Aliran -aliran dalam metafisika
cabang-cabang filsafat menimbulkan aliran-aliran filsafat sebagai berikut :
1. Segi kuantitas; dipandang dari segi kuantitas maka
muncullah aliran -aliran filsafat antara lain:
a. Mononisme; aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya
ada satu kenyataan yang terdalam (yang funda mental)
b.
Dualisme; yaitu aliran yang menyatakan adanya dua substansi pokok yang
masing-masing berdiri sendiri.
c.
Pluralisme; yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui adanya satu substansi
atau hanya dua substansi melaikan mengakui adanya banyak substansi .
2. Dari segi kualitas; di mana di
lihat dari segi kualitasnya yaitu dipandang dari segi sifat nya maka terdapat
beberapa aliran filsafat yaitu:
a. Spritualisme; aliran filsafat yang menyatakan bahwa
kenyataan yang terdalam alam semesta yaitu roh.
b. Materialisme yaitu aliran filsafat yang menyatakan bahwa
tidak ada hal yang nyata kecuali materi.
3. Dilihat dari segi proses terdapat beberapa aliran yaitu;
a. Mekanisme dimana mekanisme ini berasal dari bahasa yunani
mechan(mesin).menurut aliran ini semua gejala atau pristiwa seluruhnya dapat
diterangkan berdasarkan pada asas-asas mekanis(mesin).
b. Telelogis aliran ini tidak mengingkari hukum sebab
akibat, tetapi bependirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah
hukum sebab akibat tetapi awal mulah nya memang ada sesuatu kemauan
c. Vitalisme menyatakan bahwa hidup tidak dapat di jelaskan
secara fisik kimiawi .
b.epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa
yunani episteme(pengetahuan). Secara umum epistemologi yaitu cabang filsafat
yang membahas tentang hakikat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak
dan kebenaran pengetahuan.
1. Rasionalisme
Aliran rasionalisme berpendapat
bahwa ssemua pengetahuan beersumber pada akal fikiran atau ratio. Tokoh-tokoh
nya antara lain sebagai berikut: Rene Descartes (1596-1650), ia membedakan ada
nya tiga idea yaitu:innate ideas (ide bawaan), yaitu sejak manusia lahir.
Adventitous ideas, yaitu idea-idea yang berasal dari luar manusia, dan idea
yang dihasilkan oleh fikiran itu sendiri yaitu di sebut faktitious ideas. Tokoh
rasionalisme yang lain adalah spinoza (1632-1677), Leibniz (1646-1716).
2. Empirisme
Empirisme adalah aliran ini
beroendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman
indra. Indra memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alam impiris,
selanjutnyas kesan-kesan tesebut terkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi
pengalaman. Tokoh-tokoh impiris antara lain:Jhon locke (1632-1704), menurutnya
pengalaman dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: - pengalaman luar
(sensation), yaitu pengalaman yang diperoleh dari luar. pengalaman dalam
(batin) (reflexion). Kedua pengalaman tersebut merupakan idea-idea yang
sederhana, yang kamudian dengan prosses asosiasai membentuk idea yang lebih
kompleks.
David HUME (1711-1776); yang
meneruskan tradisi impirisme. Hume berpendapat bahwa, idea-idea yang sederhana
adalah salinan (copy) dan sensasi-sensasi sederhana atau idea-idea yang
kompleks di bentuk dan kombinasi idea-idea sederhana atau dari kesan-kesan yang
kompleks. Aliran ini kemudian berkembang dan memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abat 19 dan 20.
3.Realisme
Realisme yaitu suatu aliran filsafat
yang menyatakan bahwa objek-objek yang kita serap lewat indra adalah nyata
dalam diri objek tersebut. Objek-objek tersebut tidsk tergantuk pada subjek
yang mengetahui atau tidak tergantung pada fikiran subjek. Fikiran dan dunia
luar saling berintriaksi , tetapi intraksi tersebut mempunyai sifat dasar dunia
tersebut. Tokoh-tokoh aliran realisme antara lain sebagai berikut: Aristoleles
(384-322 SM), menurut aristoteles realitas berada dalam benda konkrit atau
dalam proses-proses perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita
serap. Bentuk (from) atau idea atau prinsip keteraturan dan material tidak
dapat dipisakan. Kemudian aliran realisme berkembang terus dan kemudian
berkembanglah aliran realisme baru, yang tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut:
George Edward Moore, Bertrand Russell, sebagai reaksi terhadap aliran ideaisme
, subjektivisme dan absolutisme menurut rialialisme baru bahwa eksestensi objek
tidak tergantung pada diketahuinya objek tersebut.
4. Kritisme
Kritisme yang enyatakan bahwa akal
menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiris (yang meliputi indra dan
pengalaman). Kemudian akal menempatkan, mengatur dan menertibkan dalam
bentuk-bentuk pengamatan yakni dalam ruang dan waktu. Pengamatan merupakan
permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akan merupakan pembentuknya.
Tokoh-tokohnya adalah Imanuel Kant (1724-1804). aliran kritisme Kant ini
nampaknya mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme (Ali Mudhofir, 1985 :
52)
5. Positivisme
positivisme dengan tokohnya August
Comte yang memiliki pandangan sebagai berikut : sejarah perkemabnagan pemikiran
umat manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu :
Tahap pertama : tahap theologis
yaitu manusia masih dipercaya dengan pengetahuan atau pengenalan yang mutlak.
Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh tahyul-tahyul, sehingga subyek dan
objae tidak bisa dibedakan.
Tahap kedua : adalah tahap metafisis
yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan kenyataan, akan tetapi
belum mampu membuktikian dengan fakta.
Tahap ketiga : yaitu tahap positiv
yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukum-hukum dan saling
hubungan lewat fakta. Maka pada tahap inilah pengetahuan manusia dapat
berkembang dan dibuktikan lewat fakta.
6. Skeptisisme
Skeptisisme menyatakan bahwa
penyerapan indra adalah bersifat menipu atau menyesatkan. Namun pada zaman
modern berkembang menjadi skeptisisme metodis (sistematis) yang mensyaratkan
adanya bukti sebelum suatu pengetahuan diakui benar. Tokoh-tokohnya adalah Rene
Descartes (1596 – 1650)
7. Pragmatisme
Pragmatis,
aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan namun mempertanyakan
tentang pengetahuan dengan manfaat atau guna dari pengetahuan tersebut dengan
kata lain perkataan kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat
dan sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokoh-tokoh aliran pragmatisme antara
lain : C.S Pierce (1839 – 1914), yang menyatakabn bahwa yang terpenting adalah
manfaat apa yang dapat dilakukan pengetahuan dalam suatu rencana. Tokoh yang
lainnya adalah Willyam Jammes (1824 – 1910), yang menyatakan bahwa urusan
kebenran sesuatu ghal adalah ditentukan oleh akibat praktisnya.
c. Metodologi
Cabang filsafat tentang metodologi
adalah membahas tentang metode terutama dalam kaitannya dengan metode ilmiah.
Hal ini sangat penting dalam ilmu pengetahuan terutama dalam proses
perkembangannya. Misalnya metode ilmiah dalam ilmu sejarah, dalam ilmu
sosiologi, dalam ilmu ekonomi dan sebagainya. Metodologi membicarakan tentang hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan ilmiah misalnya sifat observasi, hipotesis,
hukum teori, susunan eksperimen dan sebagainya.
d. logika
Logika adlaha ilmu yang mempelajari
pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab
mengenai kesimpulan (Titus, 1984 : 18). Logika pada hakekatnya mempelajari
teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan-bahan
tertentu, atau dari suatu premist. Logika disebut juga sebagai suatu ilmu
tentang penarikan kesimpulan yang benar (Kattsoff : 1985 : 72). Logika dibagi
menjadi dua macam yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif
berusaha untuk menemukan aturan-aturan yang dapat dipergunakan untukl menarik
suatu kesimpulan yang bersifat keharusan dari peremis-premis tertentu. Logika
Induktif, mencoba untuk menarik suatu kesimpulan dari sifat-sifat perangakat
bahan yang diamati
e. Etika
Etika
atau filsafat prilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan tindakan
manusia dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Terdapat dua hal
permasalahan yaitu : menyangkut tindakan dan baik buruk apabila permasalahan
jatuh pada tindakan, maka etika disebut sebagai “filsafat normatif”. Dalam
pemahaman etika sebagai pengetahuan mengenai norma baik buruk dalam tindakan
mempunyai persoalan yang luas. Etika yang demikian ini mempersoalkan tindakan
manusia yang dianggap baik yang harus dijalankan, di bedakan denga tindakan
buruk atau jahat yang dianggap tidak manusiawi. Dengan demikian etika berbeda
dengan agama yang didalamnya juga memuat dan memberikan norma baik buruk dalam
tindakan manusia. Pasalnya , etika mengandalkan pada rasio semata yang lepas
dari sumber wahyu agama yang dijadikan sumber norma ilahi, dan etika lebih
cendrung bersifat analisis dari pada praktis.dengan demikian, etika adalah ilmu
yang bekerja secara rasional. Sementara dari kalangan non filsafat, etika
sering digunakan sebagai pola bertindak praktis ( Etika Propesi). Etika dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu: etika deskriftif.etika normatif, dan
etika metaetika.
Aliran-aliran
dalam bidang etika yaitu:
1.
Idealisme
Yaitu
suatu sistem moral antara lain mengakui hal-hal sebagai berikut: adanya suatu
nilai,asas-asas moral,atau aturan-aturan untuk bertindak,lebih mengutamakan
dengan kebebasan moral,lebih mengutamakan hal yang umum dari pada yang khusus.
2.
Etika teleologi
yang
menyatakan bahwa perbaikan pertindakan sepenuhnya bergantung pada suatu tujuan,
atau suatu hasil baik secara langsung maupun tidak langsung.yang termasuk etika
teleologi adalah utilitarisme.
3.
Hedonisme
Aliran
ini menyatakan bahwa kebahagiaan yang didasarkan pada suatu kenikmatan adalah
merupakan suatu tujuan dari tindakan manusia oleh karna itu tindakan manusia
baik dan buruk, etis atau tidak etis didasarkan pada suatu tujuan kenikmatan
manusia
4.
Ultitarianisme.
Adalah
aliran ini menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan
jumlah yang sebanyak-banyak nya. Aliran ini dikembangkan oleh Bentham dan Mill
bersaudara.
5.
Intusionisme
aliran ini berpandangan bahwa
jenis-jenis tindakan dapat diketahui baik atau buruk secara langsung tanpa
memikirkan nilai yang terdapat dalam akibat-akibat dari tindakan tersebut.
f. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang
membahas tetang keindahan. Estetika membicarakan tentang definisi, susunan dan
peranan keindahan. Kata estetika beerasal dari bahasa yunani 'Aesthetikaos'
yang artinya bertalian dengan penjeratan (pengindraan).
D.
ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT
Di dalam filsafat terdapat aliran-aliran yaitu sebagai
berikut.
1.
idealisme
idealisme dapat dibedakan menjadi :
a.
J.G. Fichte (1762-1814 M)
Johan Gottlieb Fichte adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena
pada tahun 1780-1788. Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu
prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan
seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika. Bukan
teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang disekitarnya kehidupan
diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta.
Menurut pendapatnya subjek “menciptakan” objek. Kenyataan pertama ialah
“saya yang sedang berpikir”, subjek menempatkan diri sebagai tesis. Tetapi
subjek memerlukan objek, seperti tangan kanan mengandaikan tangan kiri, dan ini
merupakan antitesis. Subjek dan objek yang dilihat dalam kesatuan disebut
sintesis. Segala sesuatu yang ada berasal dari tindak perbuatan sang Aku.
b.
G.W.F Hegel (1798-1857 M)
Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 17 Agustus 1770.
Ayahnya adalah seorang pegawai rendah bernama George Ludwig Hegel dan ibunya
yang tidak terkenal itu bernama Maria Magdalena. Pada usia 7 tahun ia memasuki
sekolah latin, kemudian gymnasium. Hegel muda ini tergolong anak telmi
alias telat mikir! Pada usia 18 tahun ia memasuki Universitas Tubingen.
Setelah menyelesaikan kuliah, ia menjadi seorang tutor, selain mengajar di
Yena. Pada usia 41 tahun ia menikah dengan Marie Von Tucher. Karirnya selain
menjadi direktur sekolah menengah, juga pernah menjadi redaktur surat kabar. Ia
diangkat menjadi guru besar di Heidelberg dan kemudian pindah ke Berlin hingga
ia menjadi Rektor Universitas Berlin (1830).
2. Materialisme
a.
Karl Marx (1818-1883)
Marx lahir di Trier Jerman pada tahun
1818.ayahnya merupakan seorang Yahudi dan pengacara yang cukup berada, dan ia
masuk Protestan ketika Marx berusia enam tahun. Setelah dewasa Marx melanjutkan
studinya ke universitas di Bonn, kemudian Berlin. Ia memperoleh gelar doktor
dengan desertasinya tentang filsafat Epicurus dan Demoktirus. Kemudian, ia pun
menjadi pengikut Hegelian sayap kiri dan pengikut Feurbach. Dalam usia dua
puluh empat tahun, Marx menjadi redaktur Koran Rheinich Zeitung yang dibrendel
pemerintahannya karena dianggap revolusioner.
Setelah ia menikah dengan Jenny Von Westphalen
(1843) ia pergi ke Paris dan disinilah ia bertemu dengan F.Engels dan
bersahabat dengannya. Tahun 1847, Marx dan Engels bergabung dengan Liga
Komunis, dan atas permintaan liga komunis inilah, mereka mencetuskan Manifesto
Komunis (1848).[1][7]
Dasar filsafat Marx adalah bahwa setiap zaman,
system produksi merupakan hal yang fundamental. Yang menjadi persoalan bukan
cita-xita politik atau teologi yang berlebihan, melainkan suatu system
produksi. Sejarah merupakan suatu perjuangan kelas, perjuangan kelas yang
tertindas melawan kelas yang berkuasa. Pada waktu itu Eropa disebut kelas
borjuis. Pada puncaknya dari sejarah ialah suatu masyarakat yang tidak
berkelas, yang menurut Marx adalah masyarakat komunis.
b. Thomas Hobbes (1588-1679 M)
Menurut Thomas Hobbes materialisme menyangkal
adanya jiwa atau roh karena keduanya hanyalah pancaran dari materi. Dapat
dikatakan juga bahwa materialisme menyangkal adanya ruang mutlak lepas dari
barang-barang material.
c. Hornby (1974)
Menurut Hornby materialisme adalah theory,
belief, that only material thing exist (teori atau kepercayaan bahwa yang ada
hanyalah benda-benda material saja).
Sebagian ahli lain mengatakan bahwa materialisme
adalah kepercayaan bahwa yang ada hanyalah materi dalam gerak. Juga dikatakan
kepercayaan bahwa pikiran memang ada, tetapi adanya pikiran disebabkan
perubahan-perubahan materi. Materialisme juga berarti bahwa materi dan alam
semesta tidak memiliki karakteristik pikiran, seperti tujuan, kesadaran, niat,
tujuan, makna, arah, kecerdasan, kemauan atau upaya. Jadi, materialisme tidak
mengakui adanya entitas nonmaterial, seperti roh, hantu, malaikat. Materialisme
juga tidak mempercayai adanya Tuhan atau alam supranatural. Oleh sebab itu,
penganut aturan ini menganggap bahwa satu-satunya realitas yang ada hanyalah
materi. Segala perubahan yang tercipta pada dasarnya berkausa material. Pada
ekselasi material menjadi suatu keniscayaan pada being of phenomena. Pada akhirnya
dinyatakan bahwa materi dan segala perubahannya bersifat abadi.
d. Van Der Welj (2000)
Van Der Welj mengatakan bahwa materialisme dengan
menyatakan bahwa materialisme ini terdiri atas suatu aglomerasi atom-atom yang
dikuasai aleh hukum-hukum fisika-kimiawi. Bahkan, terbentuknya manusia sangat
dimungkinkan berasal dari himpunan atom-atom tertinggi. Apa yang dikatakan
kesadaran, jiwa, atau roh sebenarnya hanya setumpuk fungsi kegiatan dari
otakyang bersifat sangat organik-materialistis.
3. Eksistensialisme
Tokoh-tokoh eksistensialisme ini cukup banyak, di antaranya: Kierkegaard,
Friedrich Nietzsche, Karl Jaspers, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, dan
Sartre. Namun dalam makalah ini penulis membatasi pada dua tokoh ini yang
dipandang mewakili tokoh-tokoh lainnya, yaitu Soren Aabye Kierkegaard dan Jean
Paul Sartre.
a.
Soren Aabye Kierkegaard
Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) lahir di Kopenhagen, Denmark. Ia lahir
ketika ayahnya berumur 56 tahun dan ibunya 44 tahun. Ia mulai belajar teologi
di Universitas Kopenhagen. Ia menentang keras pemikiran Hegel yang mendominasi
di Universitas tersebut. Dalam kurun waktu ini ia apatis terhadap agama, ingin
hidup bebas dari lingkungan aturan agama. Setelah mengalami masa krisis
religius, ia kembali menekuni ilmu pengetahuan dan menjadi Pastor Lutheran.
Pada tahun 1841 ia mempublikasikan buku pertamanya (disertasi MA) Om
Begrebet Ironi (The Concept of Irony). Karya ini sangat orisinal dan
memperlihatkan kecemerlangan pemikirannya. Ia mengecam keras asumsi-asumsi
pemikiran Hegel yang bersifat umum. Karya agungnya terjelma dalam Afsluttende
Uvidenskabelig Efterskriff (Consluding Unscientific Postcript) tahun 1846,
mengungkapkan ajaran-ajarannya yang bermuara pada kebenaran subyek.
b.
Jean Paul Sartre
Jean Paul Sartre (1905-1980) lahir tanggal 21 Juni 1905 di Paris. Ia
berasal dari keluarga Cendikiawan. Ayahnya seorang Perwira Besar Angkatan Laut
Prancis dan ibunya anak seorang guru besar yang mengajar bahasa modern di
Universitas Sorbone. Ketika ia masih kecil ayahnya meninggal, terpaksa ia
diasuh oleh ibunya dan dibesarkan oleh kakeknya. Di bawah pengaruh kakeknya
ini, Sartre dididik secara mendalam untuk menekuni dunia ilmu pengetahuan dan
bakat-bakatnya dikembangkan secara maksimal. Pengalaman masa kecil ini memberi
ia banyak inspirasi. Diantaranya buku Les Most (kata-kata) berisi nada negatif
terhadap hidup masa kanak-kanaknya.
Meski Sartre berasal dari keluarga Kristen protestan dan ia sendiri
dibaptiskan menjadi katolik, namun dalam perkembangan pemikirannya ia justru
tidak menganut agama apapun. Ia atheis. Ia memngaku sama sekali tidak percaya
lagi akan adanya Tuhan dan sikap ini muncul semenjak ia berusia 12 tahun. Bagi
dia, dunia sastra adalah agama baru, karena itu ia menginginkan untuk
menghabiskan hidupnya sebagai pengarang.[2][8]
4. Monisme
Adapun para filsuf yang menjadi
tokoh dalam aliran ini antara lain:
a.
Thales (625-545 SM)
Thales yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu subtansi
yaitu air. Pendapat ini yang disimpulkan oleh Aristoteles (384-322 SM) , yang
mengatakan bahwa semuanya itu air. Air yang cair itu merupakan pangkal, pokok
dan dasar (principle) segala-galanya. Semua barang terjadi dari air dan
semuanya kembali kepada air pula. Bahkan bumi yang menjadi tempat tinggal
manusia di dunia, sebagaian besar terdiri dari air yang terbentang luas di
lautan dan di sungai-sungai. Bahkan dalam diri manusiapun, menurut dr Sagiran,
unsur penyusunnya sebagian besar berasal dari air. Tidak heran jika Thales,
berkonklusi bahwa segala sesuatu adalah air, karena memang semua mahluk hidup
membutuhkan air dan jika tidak ada air maka tidak ada kehidupan.
b.
Anaximandros (610-547 SM)
Anaximandros menyatakan bahwa prinsip dasar alam haruslah dari jenis yang
tak terhitung dan tak terbatas yang disebutnya sebagai apeiron yaitu
suatu zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat dirupakan dan
tidak ada persamaannya dengan suatu apapun. Berbeda dengan gurunya Thales,
Anaximandros, menyatakan bahwa dasar alam memang satu akan tetapi prinsip dasar
tersebut bukanlah dari jenis benda alam seperti air. Karena menurutnya segala
yang tampak (benda) terasa dibatasi oleh lawannya seperti panas dibatasi oleh
yang dingin. Aperion yang dimaksud Anaximandros, oleh orang Islam
disebutnya sebagai Allah. Jadi bisa dikatakan bahwa pendapat Anaximandros yang
mengatakan bahwa terbentuknya alam dari jenis yang tak terbatas dan tak
terhitung, dibentuk oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini pula yang dikatakan Ahmad
Syadali dan Mudzakir (1997) bahwa yang dimaksud aperion adalah Tuhan.
c.
Anaximenes (585-494 SM)
Anaximenes menyatakan bahwa barang yang asal itu mestilah satu yang ada dan
tampak (yang dapat diindera). Barang yang asal itu yaitu udara. Udara itu
adalah yang satu dan tidak terhingga. Karena udara menjadi sebab segala yang
hidup. Jika tidak ada udara maka tidak ada yang hidup. Pikiran kearah itu
barang kali dipengaruhi oleh gurunya Anaximandros, yang pernah menyatakan bahwa
jiwa itu serupa dengan udara. Sebagai kesimpulan ajaranya dikatakan bahwa
sebagaimana jiwa kita yang tidak lain dari udara, menyatukan tubuh kita.
Demikian udara mengikat dunia ini menjadi satu. Sedang filsuf moderen yang menganut
aliran ini adalah B. Spinoza yang berpendapat bahwa hanya ada satu
substansi yaitu Tuhan. Dalam hal ini Tuhan diidentikan dengan alam (naturans
naturata).
5. Dualisme
Orang yang pertama kali menggunakan konsep dualisme adalah Thomas Hyde
(1700), yang mengungkapkan bahwa antara zat dan kesadaran (pikiran) yang
berbeda secara subtantif. Jadi adanya segala sesuatu terdiri dari dua hal yaitu
zat dan pikiran. Yang termasuk dalam aliran ini adalah Plato (427-347 SM), yang
mengatakan bahwa dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah
dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea. Sebagai
bayangan, hakikatnya hanya tiruan dari yang asli yaitu idea. Karenanya maka
dunia ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab hanyalah merupakan tiruan yang
tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang
yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia
idea).[3][9]
Lebih lanjut Plato mengakui adanya dua substansi yang masing-masing mandiri
dan tidak saling bergantung yakni dunia yang dapat diindera dan dunia yang
dapat dimengerti, dunia tipe kedua adalah dunia idea yang bersifat kekal dan
hanya ada satu. Sedang dunia tipe pertama adalah dunia nyata yang selalu
berubah dan tak sempurna. Apa yang dikatakan Plato dapat dimengerti seperti
yang dibahasakan oleh Surajiyo (2005), bahwa dia membedakan antara dunia indera
(dunia bayang-bayang) dan dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio manusia).
Rene Descartes (1596-1650 M) seorang filsuf Prancis, mengatakan bahwa pembeda
antara dua substansi yaitu substansi pikiran dan substansi luasan (badan). Jiwa
dan badan merupakan dua sebstansi terpisah meskipun didalam diri manusia mereka
berhubungan sangat erat.
Dapat dimengerti bahwa dia membedakan antara substansi pikiran dan
substansi keluasan (badan). Maka menurutnya yang bersifat nyata adalah pikiran.
Sebab dengan berpikirlah maka sesuatu lantas ada, cogito ergo sum! (saya
berpikir maka saya ada). Leibniz (1646-1716) yang membedakan antara dunia yang sesungguhnya
dan dunia yang mungkin.
6.
Pluralisme
Para filsuf yang termasuk dalam aliran ini antara lain: Empedakles (490-430
SM), yang menyatakan hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur, yaitu api,
udara, air dan tanah. Anaxogoras (500-428 SM), yang menyatakan hakikat
kenyataan terdiri dari unsur-unsur yang tidak terhitung banyaknya, sebab jumlah
sifat benda dan semuanya dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakannodus yaitu
suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
lahir dari berbagai masa diantaranya adalah :
masa yunani, masa abad pertengahan, masa abad modern, masa abad dewasa
ini.
Filsafat juga berkembang dari
beberpa zaman diantaranya adalah : zaman praya yunani kuno, zaman yunani kuno,
zaman keemsan filsafat yunani, masa helinitis dan romawi, zaman abad
pertengahan, zaaman renaissance dan zaman modern.
Filsafat juga memiliki berbaga
cabang diantaranya adalah : metafisika, epistemiloogi,Metodis, logika, etika dan estetika
Filsafat juga memiliki berbagai aliran
diantaranya adalah : idialisme, meterialisme, eksiensialisme, monism, dualism
dan pluralism.







0 komentar:
Posting Komentar