Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
karena anugerah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang "Pengembangan
Dan Penerapan Filsafat Ilmu" ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena
telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Prodi Tadris Matematika dengan
judul " Pengembangan Dan Penerapan Filsafat Ilmu ". Disamping itu,
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah
makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan,
semoga makalah ini bisa bermanfaat dan jangan lupa ajukan kritik dan saran
terhadap makalah ini agar kedepannya bisa diperbaiki.
Mataram, 22 September 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
Bab II Pembahasan
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya
ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah
kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi tumpuan
untuk menjawabnya. Filsafat memberi penjelasan atau jawaban substansial dan
radikal atas masalah tersebut. Sementara ilmu terus mengembangakan dirinya
dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap dikritisi secara radikal. Proses
atau interaksi tersebut pada dasarnya merupakan bidang kajian filsafat ilmu,
oleh karena itu filsafat ilmu dapat dipandang sebagai upaya menjembatani jurang
pemisah antara filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu tidak menganggap rendah pada
filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu sebagai suatu pemahaman atas alam
secara dangkal.
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu
merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (ilmu
pengetahuan/sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat
ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan
pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi
dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
Salah satu ciri
khas ilmu pengetahuan adalah sebagai suatu aktivitas, yaitu sebagai suatu
kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia. Ilmu menganut pola tertentu
dan tidak terjadi secara kebetulan. Ilmu tidak saja melibatkan aktivitas
tunggal, melainkan suatu rangkaian aktivitas, sehingga dengan demikian
merupakan suatu proses. Proses
dalam rangkaian aktivitas ini bersifat intelektual, dan mengarah pada
tujuan-tujuan tertentu. Disamping ilmu sebagai suatu aktivitas, ilmu juga
sebagai suatu produk. Dalam hal ini ilmu dapat diartikan sebagai kumpulan pengetahuan
yang merupakan hasil berpikir manusia. Ke dua ciri dasar ilmu yaitu ujud
aktivitas manusia dan hasil aktivitas tersebut, merupakan sisi yang tidak
terpisahkan dari ciri ketiga yang dimiliki ilmu yaitu sebagai suatu metode.
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran,
pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru
atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Perkembangan ilmu sekarang ini
dilakukan dalam ujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu kealaman mampu menjangkau
objek potensi-potensi alam yang semula sulit diamati. manusia lewat perantara nabi-nabi
yang diutusnya).
2. Rumusan Masalah
Ø Pengembangan Teori dan Alternatif
metodologinya
Ø Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi
Ø Jalinan Fungsional Agama, Filsafat
dan Ilmu
Ø Implikasi dan Implementasi Filsafat
Ilmu dalam Pengembangan Sosial dan Politik
Ø Implikasi dan Implementasi Filsafat Ilmu dalam
Pengembangan Sosiologi
3.
Tujuan Penulisan
Ø Pengembangan Teori dan Alternatif
metodologinya
Ø Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi
Ø Jalinan Fungsional Agama, Filsafat
dan Ilmu
Ø Implikasi dan Implementasi Filsafat
Ilmu dalam Pengembangan Sosial dan Politik
Ø Implikasi dan Implementasi Filsafat Ilmu dalam
Pengembangan Sosiologi
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengembangan Teori dan Alternatif
metodologinya
Metodologi merupakan hal yang mengkaji perurutan
langkah-langkah yang
ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi pengetahuan yang ilmiah. Untuk memahami perinsip-perinsip metode filsafat perlu dibahas pengertian metodologi, unsur-unsur metodologi, dan beberapa pandangan tentang prinsip metodologi bagi para filsuf.
ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi pengetahuan yang ilmiah. Untuk memahami perinsip-perinsip metode filsafat perlu dibahas pengertian metodologi, unsur-unsur metodologi, dan beberapa pandangan tentang prinsip metodologi bagi para filsuf.
Pengembangan Teori dan Alternatif Metodologinya.Pengertian
Metodologi Metodologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang
metode-metode. Metode ialah cara bertindak menurut aturan tertentu.
Menurut Anton Baker dan Ahmad Charris Zubair, ada beberapa
unsur-unsur metodologi yaitu interpretasi(menafsirkan), induksi dan deduksi,
koherensi intern, holistis, kesinambungan historis, idealisasi, kompersasi,
heuristika, analogi, dan deskripsi.
Kesamaan antara ilmu pengetahuan dan filsafat, bahwa
keduanya sama-sama mengejar kebenaran. Kebenaran yang ditemukan tidak sekedar
demi kepentingan teori saja, melainkan demi kepentingan serta peningkatanhidup
menusia seluruhnya. Perbedaannya terletak pada obyek yang diselidiki serta
sudut tinjauannya terhadap obyek ilmu pengetahuan dari penyelidikan lahirlah
ilmu-ilmu pengetahuan khusus, seperti ilmu bumi, ilmu alam dan sebagainya.
Kajian filsafat ilmu: ontology, epistimologi, aksiologi
2.
Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi
Ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari tujuh unsur
kebudayaan universal yang dihasilkan manusia yakni sistem mata pencaharian,
sistem kepercayaan, bahasa, sistem kemasyarakatan, kesenian, sistem ilmu
pengetahuan, dan sistem peralatan hidup. Dalam penerapannya, ilmu pengetahuan
secara otomatis menghasilkan apa yang disebut teknologi. Ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, maka kita pun mengenal
istilah IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Ilmu pengetahuan bersifat
teoritis dan tidak berbentuk sedangkan teknologi bersifat praktis dan berbentuk.
Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan dipelajari untuk mengembangkan dan
memperkokoh eksistensi manusia di bumi. Teknologi diciptakan untuk meringankan
dan membebaskan manusia dari kesulitan-kesulitan hidupnya yang sarat dengan
keterbatasan.
Sebagai sebuah entitas pada dasarnya ilmu pengetahuan
bersifat independen (bebas dari nilai), tetapi di sisi lain sebagai instrumen
(alat dan proses) keberadaannya koheren, tergantung, dan diarahkan.
Etika memang bukan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan
dan teknologi, tetapi penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat memerlukan adanya dimensi etis sebagai alat kontrol bagi
pengembangan iptek agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma
yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan
kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem,
bertanggung jawan kepada kepentingan umum, kepentingan generasi
mendatang, dan bersifat universal. Adanya tanggung jawab etis tidak dimksudkan
untuk menghambat kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi dengan adanya tanggung jawab
etis diharapkan mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi manusia untuk
mengembangkan teknologi yang nantinya akan mengangkat kodrat dan martabat
manusia .
Pada hakikatnya ilmu itu mempunyai nilai netral (nol),
dengan memahami bahwa ilmu itu netral maka ilmu pengetahuan bisa
berkembang. Sehingga tidak tercampuri dengan suatu hal yang dapat menjadikan
ilmu atau itu sendiri menjadi terhambat dalam perkembangannya. Sedangkan netral
itu sendiri ada berbagai pandangan yang pertama dalam pandangan Ontologi,
yakni masalah atau hakikat netral itu sendiri. Yang mempunyai ruang lingkup
tentang baik buruknya ilmu yang telah ada. Kemudian dalam pandangan secara
Epistimologi yaitu masalah bagaimana mendapatkan ilmu itu. Dan untuk
mendapatkannya apakah sesuai atau malah menyimpang dari metode ilmiah.
Sedangkan yang terakhir adalah netralisasi dalam pandangan Aksiologi.ini
menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu itu sendiri. Seperti suatu hal yang sangat
disesalkan oleh Albert Einsten, karena penemuannya tentang nuklir. Ternyata
manusia sebagai pengkonsumsi dari hasil temuan ilmu itu telah menyimpang atau
menyalahi aturan yang ada. Padahal Einsten meneliti nuklir bukan karena dia
ingin menggunakannya sebagai bom dan membunuh jutaan manusia, tetapi sebaliknya
yaitu untuk kemaslahatan manusia sendiri. Tetapi manusia sendirilah sebagai
pengguna yang telah salah menggunakan hasil pikiran Einstein itu.
Dampak buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan
legitimasi bahwa ilmu pengetahuan atau sains tidak netral. Ada yang rancu
di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan teknologi)
sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian sains
alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi pada
perilaku manusia sebagai penggunanya. Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak
semua dampak dapat diperkirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya,
tidaklah adil untuk melemparkan tuduhan bahwa ilmu pengetahuan bersifat
merusak. Menjadi jelas bahwa pada dasarnya nilai sains atau ilmu itu netral.
Maksud dari netral itu adalah ilmu tidak bernilai baik atau buruk tetapi ilmu
itu di antara keduanya. Sesuai manusia yang membawa ilmu itu. Bagaimanakah menggunakannya?
Untuk apa ilmu itu? Siapa yang memakai ilmu itu? Semua pertanyaan itu
salah satu bukti kenetralan ilmu. Karena posisi ilmu pengetahuan yang netral,
maka tugas para ilmuwan adalah membangun sikap ilmiah yang berwawasan
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan
nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung
jawab. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan untuk
kepentingan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek alam sebagai sumber
kehidupan.
3. Jalinan Fungsional Agama,
Filsafat dan Ilmu
Yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran. Demikian pula
ilmu dan agama. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah kebenaran akal.
Sedangkan kebenaran dalam agama adalah kebenaran wahyu. Kita tidak akan mencari
mana yang paling benar, akan tetapi melihat apakah keduanyadapat berdampingan
dan hidup damai. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran secara akal,
hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu bermacan-macam. Hal ini
dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda. Demikian halnya dengan agama,
terdapat bermacam-macam dan kesemuanya mengajarkan tentang kebenaran. Dengan
cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka antara filsafat,
ilmu danagama dapat terjalin hubungan yang harmonis dan saling mendukung.
Ketiganya dapat menunjang dalam menyelesaikan persoalan yang timbuldalam
kehidupan
4. Implikasi dan Implementasi
Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Sosial dan Politik
Untuk menelaah gap antara ilmu politik dengan ilmu yang
lainnya dalam hal ini adalah ilmu pendidikan, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang
dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka
bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan
pendapat Immanuel Kant (Wibisono S. dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat
merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup
pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (The Liang Gie.,
1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of
the sciences).
Tinjauan filsafat ilmu mengenai sosial politik adalah
sebagai berikut:
a. Dari Segi Ontologis,
Dari pembahasan ontologisnya, semua manusia sebagai mahluk individu pada dasarnya
mempunyai Hak Asasi Manusia (HAM) berupa: memperoleh pengetahuan, diakui status
sosialnya, diakui keberadaannya, dan berhak memperoleh kehidupan yang lebih
baik. Konsep HAM berlaku secara universal, bagi siapa saja dimana saja tanpa
terkecuali, mutlak dan bebas nilai. Tidak ada alasan apapun bagi siapapun untuk
menghalangi manusia memperoleh apa yang menjadi hak dasarnya.
b. Dari Segi Epistemologis,
Keterkaitan antara pendidikan dan politik berimplikasi dalam hal filosofis
maupun kebijakan. Filsafat pendidikan di suatu negara sering kali merupakan
refleksi prinsip ideologis yang diadopsi oleh negara tersebut. Di Indonesia,
filsafat pendidikan nasional adalah pengejewantahan dari nilai-nilai yang
terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan dalam hal kebijakan, sangat
sulit memisahkan antara kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuat pemerintah
di suatu negara dengan persepsi dan kepercayaan politik yang ada pada
pemerintah tersebut.
c. Dari Segi Aksiologis,
Adalah sulit memisahkan pendidikan, politik dan peran keduanya yang saling
terkait satu dengan yang lain karena persoalan-persoalan kependidikan sulit
dipahami dengan baik tanpa melihat konteks politik dari persoalan tersebut.
Begitu pula sebaliknya, berbagai persoalan politik sulit dipahami tanpa melihat
konteks kependidikan dari persoalan tersebut. Sehingga diharapkan ilmuwan
pendidikan di negeri ini membutuhkan wawasan politik yang memadai untuk dapat
menjelaskan berbagai persoalan pendidikan yang ada. Begitu pula para ilmuwan
politik membutuhkan wawasan kependidikan untuk dapat menjelaskan berbagai
persoalan politik dengan baik kepada masyarakat.
5. Implikasi dan Implementasi
Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Sosiologi
Berdasarkan kamus besar baasa Indonesia implikasih di artikan
sebagai keterlibatan atau keadaan terlibat: manusia sebagai objek percobaan
atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentingannya. Sedangkan
Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia implementasi diartikan sebagai
pelaksanaan atau penerapan.
Menurut the liang gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap
pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang
menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan
manusia. Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan.
Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat
ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan
pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru.
Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari
pengembangan kurikulum tersebut, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis,
landasan sosiologis. Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat
dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan.
Landasan filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya.
Landasan psikologis terutama berkaitan dengan teori
belajardan psikologi perkembangan. Psikologi belajar memberikan kontribusi
dalam hal bagaimana kurikulum itu di sampaikan dan bagaimana pula siswa harus
memperlajarinya. Psikologi belajar berkenaan dengan penentuan stategi
kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan di perlukan terutama dalam
menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa.
Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang
harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum kerena pendidikan selalu
mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu
keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan, kehidupan
masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budaya yang menjadi dasar
dan acuan bagi pendidikian atau kurikulum.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat ilmu
merupakan cabang filsafat yang membahas tentang ilmu. Tujuan filsafat ilmu
adalah mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana ilmu
pengetahuan itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang
ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian filsafat
ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Tujuan
mempelajari filsafat ilmu pada dasarnya adalah untuk memahami persoalan ilmiah
dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan
cermat dan kritis.
Hubungan
filsafat dengan ilmu pengetahuan lain adalah bahwa Filsafat mempunyai objek
yang lebih luas, sifatnya universal, sedangkan ilmu-ilmu pengetahuan objeknya
terbatas, khusus lapangannya saja. Selain itu Filsafat hendak memberikan
pengetahuan, insight/pemahaman lebih dalam dengan menunjukan sebab-sebab yang
terakhir, sedangkan ilmu pengetahuan juga menunjukkan sebab-sebab tetapi yang
tak begitu mendalam.







0 komentar:
Posting Komentar